Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH. Tampilkan semua postingan

Tujuan Mendirikan Halaqoh Taklim

(bagian 5 : Tujuan Yang Pertama)
Oleh : Musa

Setelah pada halaqoh-halaqoh yang telah lalu kita membahas muqoddimah dari kitab "Maqoshid Halaqotta'lim wa wasailuha", kita akan mulai membahas dari tujuan yang pertama dan cara untuk mewujudkan tujuan ini.
Tujuan yang pertama dari mendirikan halaqoh ta'lim adalah
"Menanamkan keagungan agama Islam dalam hati setiap pelajar." Sebenarnya, keagungan agama Islam memang harus ada di hati setiap muslim. Karena orang muslim yang hatinya tidak tunduk sepenuhnya pada agama Islam, masih diragukan keislamannya. Meskipun ia mengerjakan lima rukun Islam. Tidak sedikit umat Islam yang mengerjakan kewajiban-kewajiban itu dengan terpaksa. Lebih-lebih kewajiban yang berkaitan dengan harta benda, zakat. Andaikan dalam hati mereka ada rasa hormat dan ketundukan yang total, niscaya kewajiban-kewajiban itu akan dikerjakan dengan penuh keikhlasan.
Jika setiap orang awam wajib mengagungkan agama Islam, maka kewajiban ini lebih ditekankan bagi kaum terpelajar. Karena kaum terpelajar dengan ilmunya telah mengetahui sisi-sisi keagungan agama Islam. Disamping itu, kaum terpelajar adalah sebagai percontohan bagi orang awam, sebagaimana para Nabi menjadi contoh bagi umatnya. Seperti yang telah diterangkan dalam hadits "kaum terpelajar (ulama) adalah pewaris para Nabi."

Makna mengagungkan agama Islam
Apakah makna sikap mengagungkan agama Islam sebagaimana yang diharapkan dari pendirian halaqoh ta'lim? Cara mengagungkan agama Islam adalah dengan memposisikannya sebagai agama yang sangat tinggi dan mulia, menerapkan segala ajaran-ajarannya secara totalitas, merasa bertanggungjawab atas keberadaannya dengan terus menebarkan kesyi'arannya, berkorban jiwa dan raga untuk kepentingan-kepentingannya, membelanya dari gangguan orang luar. Dengan kata lain mengagungkan agama Islam adalah mengibarkan panji-panjinya dengan bangga, baik di dalam dada, di keluarga maupun di lingkungan masyarakat.
Semua sikap diatas tidak akan terwujud dalam diri seseorang tanpa melalui pendidikan (tarbiah) dengan segala jenisnya. Baik pendidikan keluarga, lingkungan maupun pendidikan di instansi-instansi resmi. Karena orang yang tidak mengenal sesuatu tidak akan dapat mencintainya, apalagi mengagungkannya. Oleh sebab itu, kita perlu mengenalkan Islam kepada seluruh masyarakat melalui halaqoh ta'lim yang kita dirikan. Dengan harapan agar keagungan agama Islam tertanam di setiap dada insan muslim.

Metode Untuk Menanamkan Keagungan Agama Islam
Ada beberapa cara yang perlu ditempuh pendiri atau penyelenggara halaqoh ta'lim untuk merealisasikan tujuan yang pertama ini. Diantaranya adalah :
1. Sebaiknya para penyelenggara halaqoh ta'lim menampakkan sikap-sikap yang agung dalam ucapan, perbuatan dan tingkah lakunya, agar sikap ini disaksikan oleh para peserta halaqoh ta'lim. Sehingga mereka dapat meniru serta menerapkannya. Hal itu dapat terlihat pada saat dia mengucapkan Lafadh Jalalah (Allah), hatinya dipenuhi dengan rasa hormat dan cinta yang sangat dalam, disertai dengan pengucapan sifat-sifat keagungan Allah swt semisal : jalla jalaluhu, azza wajalla, subhanahu wata'ala dan jalla fii 'ula. Diantara sikap agung dalam ucapan penyelenggara ta'lim adalah ketika menyebutkan nama Nabi Muhammad saw atau Nabi-nabi yang lain disertai dengan kata sayyid (tuan), disertai rasa kecintaan dan mendoakan sholawat serta salam untuk mereka dan keluarga mereka. Begitu juga ketika menyebutkan nama seorang alim ulama, maka harus disertai dengan mendoakan ridho serta rahmat Allah swt untuk mereka.
2. Dengan memperbanyak mengingat akhirat serta segala sesuatu yang akan terjadi disana, semisal balasan setiap amal perbuatan.
Cara ini digunakan untuk memberi motivasi kepada para peserta halaqoh ta'lim dalam mengerjakan amal-amal kebaikan dan menjauhi gemerlap kehidupan dunia. Dengan mengingatkan mereka akan hal ihwal hari kiamat sebagai hari pembalasan, jiwa mereka akan merasa menyesal atas dosa-dosa, merasa sangat membutuhkan ampunan dan rahmat Allah swt serta merasa sudah saatnya kembali kepada Allah swt Penguasa hari pembalasan. Dengan demikian, ketika mereka kembali dari halaqoh ta'lim, hati mereka dipenuhi dengan rasa tanggungjawab yang tinggi akan perbuatan-perbuatan yang telah, sedang dan akan ia kerjakan. Semangatnya untuk mengerjakan kebaikan kembali berkobar setelah sempat terpadamkan oleh air dosa-dosa yang mengguyur dari berbagai arah.
3. Dengan mengulang-ulang kisah-kisah para Nabi dan orang-orang sholeh.
Dalam kisah para Nabi dan salafus sholih ada hikmah-hikmah dan pelajaran penting yang dapat kita petik. Karena kisah kehidupan mereka diliputi dengan teladan dan rahasia-rahasia Allah swt. Keberhasilan metode ini telah terbukti dengan keberhasilan Al-Quran dalam mengingatkan orang-orang kafir. Sehingga tidak sedikit dari mereka masuk Islam setelah mendengar kisah para Nabi saw.
4. Mengulang-ulang pembicaraan tentang agama Islam sebagai pemberian paling agung dari Allah swt terhadap umat manusia. Dengan agama inilah kebahagiaan abadi, ketinggian derajat serta keselamatan dari api neraka akan kita gapai. Dan kehidupan dunia tidak ada artinya jika dibandingkan dengan segala sesuatu yang ada di sisi Allah swt.
Dengan membicarakan pemberian Allah swt, kita telah bersyukur kepada Allah swt atas karunia-Nya. Karena membicarakan kenikmatan yang kita terima adalah salah satu dari jenis syukur dengan lisan. Dengan membicarakan nikmat pula kita semakin merasa berhutang dan sudah sepantasnya senantiasa mengerjakan apa yang telah menjadi kewajiban kita.
Dengan membicarakan tentang agama Islam yang membawa kita pada kebahagiaan abadi, ketinggian derajat serta keselamatan dari api neraka, diharapkan para peserta halaqoh lebih merasa yakin akan ajarannya dan lebih gigih dalam mempelajarinya.
5. Menyimak dengan seksama setiap pembacaan ayat Al-Quran. Tidak menyentuh Al-Quran kecuali dalam keadaan suci. Bahkan dianjurkan untuk menjaga kesucian selama halaqoh berlangsung dan dalam keadaan apapun.
Point ini mengajarkan kepada kita agar benar-benar mengagungkan Al-Quran dengan menyimak secara hikmat ketika ia dibaca, dan tidak menyentuhnya ketika kita dalam keadaan hadats. (bersambung Insya Allah swt).

Selengkapnya....

TUJUAN MENDIRIKAN HALAQOH TA'LIM

(Mukadimah 4)
Oleh : Musa

Ahlul Ilmi
Al-Habib mengutip pernyataan Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya tentang kewajiban setiap muslim yang telah mengetahui sebuah permasalahan untuk menyampaikannya.
"ketahuilah bahwa pada zaman sekarang (zaman Imam Ghozali RA) setiap rumah dimana pun berada tidak lepas dari kemungkaran.
Yaitu ketika mereka enggan menunjukan masyarakat pada kebaikan (ma'ruf). Kebanyakan masyarakat perkotaan bodoh akan hal-hal agama (syariat islam), lebih-lebih masyarakat pedukuhan dan pedalaman. Maka setiap masjid dan perumahan di sebuah kota harus ada orang ahli fikih yang mengajari masyarakat tentang agama mereka. Begitu juga di setiap desa-desa. Dan wajib bagi orang fakih yang telah selesai dari belajar hal-hal yang bersifat fardhu ain dan telah menginjak pelajaran yang fardhu kifayah, untuk keluar dari kotanya (pemukimannya) menuju ke pedukuhan dan pedalaman untuk mengajari kebutuhan agama mereka. .... Dan setiap orang awam yang telah mengetahui salah satu syarat sholat maka ia wajib mengajarkannya pada orang lain. Jika ia tidak mengajarkannya maka ia berdosa juga. Sebagaimana telah maklum bahwa seorang Nabi tidak dilahirkan dalam keadaan pandai (alim) akan hukum-hukum agama. Akan tetapi sudah menjadi kewajiban bagi setiap ahli ilmu untuk menyampaikan ilmunya. Dan setiap orang yang mengetahui satu permasalahan maka ia adalah ahlu ilmi tentang permasalahan itu."
Demikianlah, bahwa menurut Imam Ghozali setiap orang yang telah mengetahui sesuatu, berkewajiban menyempaikannya pada orang yang belum mengetahuinya, karena ia merupakan ahlu ilmi tentang masalah itu.
Tidak diragukan lagi, maksud dari pengutipan pernyataan Imam Ghozali diatas adalah untuk memberi motivasi kepada setiap pelajar ilmu agama untuk membuka halaqoh ta'lim. Tidak ada alasan untuk mengelak meskipun ia baru mengetahui sedikit permasalahan agama.
Perlu diketahui, bahwa keterangan diatas adalah kewajiban kita mengajarkan apa yang telah kita pelajari. Dan bukan kewajiban untuk membuka halaqoh ta'lim tanpa ilmu. Oleh karena itu, kita harus mengajarkan sesuai dengan apa yang telah kita pelajari. Kita tidak boleh melampauinya dan memaksakan diri mengajarkan apa yang tidak kita ketahui. Karena hal itu adalah menyesatkan dan bukan menunjukan.

Sebab-Sebab Kendornya Semangat Dakwah
Kendornya semangat dakwah kebanyakan disebabkan oleh beberapa prasangka dan alasan yang tidak benar. Maka perhatikanlah pernyataan Imam Al-Haddad dalam kitab Al-Da'wah Al-Taamah berikut ini : "terkadang di benak para ahli ilmi muncul beberapa prasangka yang menghalanginya dari berdakwah menuju kebenaran dan menyebarkan ilmu. Diantaranya adalah ungkapan -saya tidak mengamalkan ilmu saya, bagaimana saya akan mengajarkan dan mengajak (orang lain) untuk mengerjakannya, sedangkan hal itu ancamannya berat. Maka, jawabannya adalah bahwa mengajarkan ilmu merupakan bagian dari mengamalkannya. Orang yang mengajarkan dan tidak mengamalkan jauh lebih baik dari pada orang yang tidak mengamalkan dan tidak mengajarkan. Jika engkau tidak mampu mengerjakan kebaikan secara utuh, maka janganlah engkau lemah dari mengerjakan sebagiannya. Dan kamu harus terus belajar dan berusaha untuk mengamalakan apa yang telah engkau ketahui. Tidak diragukan lagi bahwa ancaman terhadap orang yang tidak mengamalkan dan tidak mengajarkan lebih berat daripada ancaman terhadap orang yang mengajarkan meskipun belum mengamalkan. Karena orang yang telah mengajarkan dan belum mengamalkan telah mengerjakan salah satu dari dua kewajibannya, sedangkan orang yang tidak mengajarkan dan tidak mengamalkan telah meninggalkan dua kewajibannya sekaligus, maka ia lebih berhak untuk mendapatkan ancaman dan siksanya.
Diantara alasannya yang lain adalah ucapannya pada diri sendiri : bahwa seruan menuju Allah SWT (dakwah) serta menuntun masyarakat menuju kepada-Nya merupakan kedudukan yang sangat tinggi lagi mulia, hal itu adalah tugas para imam yang mampu menunjukan pada hidayah dan agama Allah SWT, sedangkan saya tidak termasuk salah satu dari mereka. Maka, kekerdilannya itu menjadikannya terbungkam dari dakwah serta enggan untuk menuntun masyarakat. ia menyangka bahwa itu adalah termasuk dari sifat tawadhu' yang terpuji serta sifat tahu diri yang sudah sepantasnya. Ini adalah salah satu dari prasangka yang salah. Karena kebenaran tidak akan menghalangi kebenaran, serta kebaikan takan memalingkan dari kebaikan. Maka, ia wajib berusaha dan menyingsingkan lengan baju untuk berdakwah menuju hidayah serta menunjukan jalan kebaikan dengan disertai sifat tawadhu', rendah hati, merasa takut pada Allah SWT, khusyu' serta pengakuan akan kekurangan dan kehinaan dirinya. Inilah sifat kesempurnaan (yang hakiki), serta tabiat orang-orang besar yang mana dakwah mereka tidak pernah terhalangi hanya karena bisikan syaitan, tidak pula terpalingkan hanya karena propaganda-propagandanya. ... Prasangka-prasangka yang telah kami sebutkan di atas dan sejenisnya, terkadang juga menimpa para ulama yang telah mengamalkan ilmunya serta telah memiliki sifat takwa kepada Allah SWT."
Semoga Allah SWT membalas beliau dengan kebaikan atas nasihat yang penuh kasih sayang ini. Semoga Allah SWT memberikan pertolongan dan taufiq.
Selanjutnya, kata Al-Habib : maka wajib bagi setiap orang islam yang berambisi untuk menegakkan agamanya serta berharap untuk mendapatkan ridho Allah SWT, bergerak bersama untuk mendirikan halaqoh ta'lim dan memperluas jaringannya dengan mengajar bagi yang memiliki keahlian dan mensuportnya bagi yang tidak mampu. Caranya adalah dengan mengorbankan harta dan segala kemampuannya, baik kemampuan jasmani ataupun rohani.
"وتعاونوا على البر والتقوى"
وصلى الله على سيد المعلمين والداعين حبيب الله محمد وآله وصحبه وسلم
Demikianlah sedikit keterangan dari kami tentang sambutan Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh dalam mukadimah buku Maqoshid Halaqoh Ta'lim wa Wasa'iluha yang telah kami tulis selama empat edisi. Semoga bermanfaat.
Untuk membuka edisi berkutnya akan saya sebutkan tujuan menyelenggarakan halaqoh ta'lim secara global sebagaimana dalam kitab tersebut. Yaitu :
1. Menanamkan keagungan agama Islam dalam hati setiap pelajar.
2. Menyampaikan ilmu pengetahuan ke dalam otak mereka serta memahamkan agama mereka.
3. Menghiasi mereka dengan akhlak islamiah yang sangat terpuji.
4. Menautkan hati mereka dengan tugas dakwah menuju Allah SWT serta rasa bertanggungjawab atas tugas agama dan Risalah Muhammadiah.

Semoga Allah SWT melanggengkan rahmat-Nya kepada kita untuk terus mengais hikmah-hikmah yang menyejukan hati dan jiwa kita. Amin.
(bersambung Insya Allah SWT)



Selengkapnya....

Tujuan Mendirikan Halaqoh Ta'lim

(Mukadimah 3)
Oleh : Musa

Pertolongan Allah swt dan Tawakkal
Setelah Al-Habib menganjurkan pada kita tentang niat ikhlas, beliau memberi wejangan selanjutnya, yaitu tentang memohon pertolongan pada Allah dan bertawakkal kepada-Nya. Beliau menyebutkan ayat "barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang yang akan mencukupinya." (al-Tholaq : 3)
Menyelenggarakan halaqoh ta'lim memang sangat berat. Karena halaqoh ta'lim memerlukan kesabaran, memerlukan tenaga, memerlukan modal dan masih banyak lagi hal-hal yang menjadikan sebagian dari kita enggan menyelenggarakan halaqoh ta'lim atau tidak kuat bertahan lama. Dari sinilah kita perlu memohon pertolongan kepada Allah swt.
Banyak cara memohon pertolongan kepada Allah swt. Diantara adalah berdoa. Berdoa merupakan ibadah termudah. Karena doa dapat kita lakukan dimana saja, kapan saja dan dalam keadaan apa saja. Disamping itu berdoa merupakan senjata orang mukmin yang paling ampuh seperti yang diterangkan dalam hadits.
Cara lain memohon pertolongan adalah dengan mengerjakan sholat. Karena dalam sholat terdapat banyak doa. Dengan mengerjakan sholat berarti seorang hamba sedang memohon pertolongan kepada Allah swt. Semua jenis sholat merupakan cara memohon pertolongan Allah yang paling efektif. Hanya saja ada beberapa sholat yang memang dikerjakan khusus untuk memohon pertolongan. Diantara jenis sholat yang khusus untuk memohon pertongan Allah adalah sholat hajat. Cara mengerjakan sholat hajat sangat masyhur terdapat di banyak buku-buku tuntunan sholat.
Adapun bertawakkal kepada Allah sebagaimana yang dianjurkan oleh Al-Habib adalah salah satu dari kewajiban seorang hamba terhadap Allah swt. Makna tawakal adalah berserah diri kepada Allah swt dengan menyerahkan segala urusan kita kepada Allah swt setelah kita mengerjakan ikhtiar. Banyak orang awam yang salah paham dengan makna tawakal. Mereka menyangka bahwa tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah swt tanpa didahului dengan ikhtiar. sedangkan Nabi Muhammad saw pernah menegur seorang sahabat yang membiarkan hewan yang ia tunggangi tanpa diikat. Alasan sahabat tersebut adalah tawakal. Namun, Nabi saw mengingatkan bahwa tawakkal adalah setelah berikhtiar. Begitu juga sayidina Umar Ra yang pernah menegur orang-orang yang duduk-duduk di Masjid dan tidak bekerja. Mereka beralasan tawakkal. Namun, Sayidina Umar Ra mengingatkan mereka bahwa orang yang bertawakkal adalah orang yang telah menebarkan benihnya di sawah kemudian menyerahkan segala urusan hasil tumbuh dan tidaknya kepada Allah swt.
Sebagai penyelenggara halaqoh ta'lim kita harus berikhtiar dengan berusaha semaksimal mungkin agar halaqoh kita bisa berhasil mewarnai masyarakat. keberhasilan itu dapat kita lihat dari perubahan prilaku masyarakat. dari masyarakat awam menjadi masyarakat yang berilmu. Dari masyarakat yang jauh dari adab islami menjadi masyarakat yang beradab islami. Dari masyarakat jahili menjadi masyarakat yang madani. Jika kita telah berikhtiar dengan sekuat tenaga kemudian kita belum melihat hasil yang kita inginkan, maka kita serahkan saja semua urusan kita pada Allah swt. Karena semua hasil yang kita capai tiada lain adalah atas pertolongan Allah swt. Dari sinilah seorang penyelenggara halaqoh ta'lim diharuskan bertawakkal.
Termasuk tawakkal yang diperlukan penyelenggara halaqoh ta'lim adalah tawakkal tentang urusan pemasukan biaya operasional halaqoh. Yang penting kita telah ikhtiar dengan usaha sekuat tenaga. Jika ternyata pendapatan kita masih pas-pasan sehingga tidak mencukupi keperluan operasional halaqoh, maka kita harus menyerahkan semuanya kepada Allah swt. Karena Allah swt Mahakaya, Mahakuasa, Mahatahu segala urusan yang diperlukan hamba-Nya.

Tawadhu' dan Shilaturrahim
Selanjutnya, Al-Habib menganjurkan kepada para penyelenggara halaqoh ta'lim untuk bertawadhu' dan rendah hati. Dua sikap ini adalah satu makna. Yaitu kebalikan dari sifat takabbur atau sombong. Sikap tawadhu' adalah sikap seseorang yang merasa dirinya jauh di bawah derajat orang lain. Dengan kata lain orang tersebut tidak pernah merendahkan orang lain. Orang tawadhu' akan selalu berbaik sangka pada siapapun. Karena dia merasa bahwa orang yang ada di hadapannya adalah lebih baik dan lebih sempurna.
Seorang penyelenggara halaqoh ta'lim harus memiliki sifat ini. Karena tidak sedikit saudara kita yang telah mendirikan halaqoh ta'lim kemudian merasa dirinya paling pintar, paling hebat dan merasa dirinya telah berjasa. Dari sifat-sifat ini penyelenggara halaqoh sering merendahkan orang lain. Terutama terhadap murid-muridnya. Tidak jarang penyelenggara halaqoh dengan tidak segan-segan menyuruh orang yang lebih tua darinya dengan alasan karena ia muridnya. Banyak juga yang merendahkan ustadz halaqoh lain karena ia merasa lebih pandai. Lebih-lebih jika ustadz itu ternyata hanya lulusan Safinah di pesantren sedangkan dirinya telah membaca Fathul Wahab atau Minhaj.
Penulis teringat penuturan seorang guru yang juga lulusan Al-Ahgaff dan telah menjadi da'i : "Kamu harus mulai belajar rendah diri, karena kamu sekarang keilmuannya sudah melebihi orang-orang di kampungmu. Apalagi setelah kamu lulus dari Al-Ahgaff, kamu harus menghormati guru-guru di kampung yang telah lebih dulu membuka halaqoh. Apalagi jika dulu dia adalah gurumu."
Selanjutnya Al-Habib memotivasi kita untuk meresapi dan menghayati "tujuan-tujuan halaqoh ta'lim" yang insya Allah akan saya terangkan pada lembaran-lembaran berikutnya. Semoga Allah memanjangkan umur kita untuk terus mengumpulkan serpihan-serpihan rahmat-Nya sebagai penghapus dosa-dosa yang telah kita lakukan.
Anjuran berikutnya adalah mengenai hubungan kita dengan orang-orang sholeh di daerah kita. Beliau menganjurkan agar kita mempererat hubungan kita dengan mereka. Nasehat ini masih berkaitan dengan nasehat sebelumnya yaitu tawadhu'. Karena diantara hal-hal yang mempererat hubungan kita dengan orang lain adalah sikap tawadhu' kita yang dapat memposisikan orang lain pada posisi yang terhormat. Dan masih banyak akhlak-akhlak mulia lain yang dapat mempererat hubungan bermasyarakat.
Diantara rahasia menjaga hubungan baik dengan orang-orang sholeh di daerah kita adalah keberkahan dan doa mereka yang akan menambah keberhasilan halaqoh kita. Sebuah contoh kecil adalah ketika kita tidak memahami beberapa masalah yang kemungkinan diketahui oleh mereka, kita dapat bertanya pada mereka. Jika hubungan kita dengan mereka tidak baik maka kita pasti akan merasa malu untuk bertanya. Bahkan kita akan gengsi bertanya pada orang yang kita benci. Contoh lain adalah ketika kita mengalami beberapa kesulitan. Insya Allah dengan senang hati mereka akan membantu kita.

Motivasi
"Jangan sampai semangatmu mengendor hanya karena orang-orang yang berusaha mengendorkan semangatmu, baik karena hasud, dengki atau yang lainnya. Jangan pula engkau merasa minder hanya dengan beberapa kritik yang pedas dan memojokan. Atau hanya karena penghinaan, cacian, peremehan dan keraguan orang-orang yang membencimu. Karena hal itu sering terjadi. Bahkan hal itu terjadi juga pada orang-orang yang sudah matang dan mantap dalam kebaikan. Semua ini tiada lain adalah ujian dari Allah swt. Oleh karena itu tidak ada motivasi yang lebih baik setelah adanya motivasi dari Allah swt, Rasul-Nya dan para salafussholeh dari umat ini. Juga tidak ada keterangan yang lebih jelas dari keterangan mereka semua. Maka dengarkanlah keterangan itu dan bersaksilah."
Pesan-pesan pada alenia diatas adalah motivasi Al-Habib kepada kita para penyelenggara halaqoh ta'lim. Semua itu menunjukan betapa beratnya tantangan yang akan kita hadapi. Namun, insya Allah dengan motivasi diatas kita akan tetap bersemangat untuk menyelenggarakan halaqoh ta'lim. Amin.
(bersambung insya Allah swt)

Selengkapnya....

AKHLAK SABAR

(AM. Saputra)*

Ibnu Mas'ud R.A. berkata: Seolah-olah saya masih melihat pada Rasulullah SAW ketika mencontohkan kejadian seorang Nabi yang dianiya kaumnya hingga berlumuran darah, sambil mengusap darah dari mukanya berkata "ALLAHUMMAGHFIR LI QOUMI FAINNAHUM LA YA'LAMUN" (ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui). (H.R Bukhari, Muslim).



Akhlak atau etika islami merupakan tema penting yang seringkali dibahas dalam kajian tazkiyatunnufus (pensucian diri), akhlak juga merupakan salah satu poin penting yang karenanya diturunkan Rasul pilihan, Nabi akhir zaman Muhammad Saw. "sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak". Akhlak islami merupakan sifat kepribadian yang sangat dianjurkan oleh agama yang hanif ini, dan menyerukan kepada segenap kaum muslimin untuk menghiasi diri mereka dengannya.

Akhlak adalah manifestasi batin seorang muslim yang mana pada hari akhir nanti akan ditampakkan segala hakikatnya. Sebagaimana pada diri manusia ada sisi jasmani yang dhohir, yang merupakan postur tubuh manusia itu sendiri manusia juga memiliki kerangka rohaniyahnya yang jika ditempa dengan baik dan dirawat maka akan menghasilkan bentuknya yang indah sebagaimana jasmani kita yang sering kita rawat dengan telitinya. Tetapi Allah hanya menilai bentuk rohaniyah dari seorang hamba-Nya saja, "seseunggunhnya Allah Swt tidak melihat kepada bentuk tubuh kalian melainkan pada hati kalian".

Sabar adalah sepenggal kata yang sering diucap dan enteng untuk dituturkan, namun dengan konsekuensi yang luar biasa berat. Sabar lebih sebagai sebuah hasil tempaan panjang takwiniyah ketimbang sebuah bekal untuk belajar. Dia wujud ka- rena kematangan fikrah dan kelembutan khusyu'. Dia adalah sebuah karakter yang diidamkan, kokoh, ibarat karang di tengah

gelombang pasang. Ibarat black hole yang menyerap semua sinar tanpa membuatnya kehilangan pegangan. Maka Allah bersama orang-orang yang sabar. Maka Nabi-nabi Allah selalu dengan kesabaran. Tanpa akhlaq islami ini da'wah islamiah tak akan tegak.
Tanpa sabar al Haq tak dapat ditegakkan. Karena, jalan bersama al haq, jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi ni'mat, jalan para Nabi, Shiiddiqiin, syuhada dan shalihiin, jalan ketaqwaan adalah jalan yang sukar lagi mendaki, jalan yang penuh celaan dari orang-orang yang suka mencela, jalan penuh hasutan dari orang-orang yang suka menghasut, jalan yang penuh hinaan dari orang-orang yang suka menghina, jalan penuh fitnah, teror, interogasi dan intimidasi. Tanpa sabar jalan yang mendaki menjadi lebih mendaki dan tak dapat dilalui.

Rasulullah saat di Tha'if berlumuran darah dilempari batu, begitu juga Nabi-nabi lain, karena kaumnya belum faham, tidak tahu kebenaran Allah, mereka jahil. Kalau saja mereka tahu, mereka faham, maka mereka akan lebih banyak menangis karena kesalahan-kesalahan mereka. Apa yang harus dilakukan untuk mereka yang tidak tahu, selain memohonkan pengampunan pada Sang Khalik ?

Memasukkan kebenaran ke dalam kepala, hati lalu mewujud dalam amaliah seseorang mad'u, bukanlah pekerjaan sederhana.
Ini adalah pekerjaan para anbiya, makhluk pilihan Allah. Coba kita bermuhasabah, baru saja perkataan kita disinggung saudara kita, ditanggapi dengan sedikit sinis atau dibiarkan, segenap ketersinggungan meluncur, meluap, lalu kita serang mereka yang bersinis-sinis kepada kita dengan kata-kata tajam-menusuk jantung.

Baru saja nasehat-nasehat kita dibalas dengan canda, dibalas dengan tawa, dibalas dengan olok-olok, segera saja segenap kebencian melanda. Belum lagi menghadapi fikrah rekan-rekan yang lain, yang tidak sama dengan kita, yang nampak kacau yang merugikkan, yang nampak munafiq, segenap kebencian penuh menghiasi layar kaca. Setumpuk buruk sangka menghiasi muka. Lalu dimana letak sabar ? Akankah kebenaran merasuk dalam hati rekan-rekan yang kepada mereka ingin kita sampaikan kebenaran, dengan tetap memelihara ketidaksabaran ? Apakah kita menganggap orang lain segera akan menerima kata-kata kita, meresapinya, lalu mengamalkannya, dengan sangat mudahnya ? Apakah kita berharap masuk surga, padahal belum datang cobaan kepada kita sebagaimana cobaan datang kepada mereka yang terdahulu ? Astaghfirullah, kita sering bermimpi. Kita sering bermimpi.

Inilah sabar. Dia muncul dari proses panjang pembinaan pribadi. Dia mesti mewujud, memancarkan sinar, melembutkan hati-hati yang memandangnya.

Hasbunallah wani'mal wakil..

Referensi:
1. Diskusi isnet.org, Materi Tarbiyah Abu Zahra
2. Muhadhorot Habib Umar bin Hafidz

*Penulis adalah aktifis sekaligus jurnalis dan sudah tingkat V Univ Al-Ahgaff.

Selengkapnya....

Tujuan Mendirikan Halaqoh Ta'lim

(Mukadimah 2)
Oleh : Musa

Pada edisi kemarin kita telah membahas tentang arti halaqoh ta'lim, perkataan Habib Umar bin Muhammad bin Salim dalam muqoddimah, serta beberapa hadits yang beliau sampaikan.
Dalam kesempatan ini kita akan membahas lebih lanjut perkataan Al-Habib dalam Muqoddimah.

Selain dua hadits yang kemarin telah kita bahas, Al-Habib juga menyebutkan dua hadits yang lain. Yaitu :
Pertama, Hadits
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ (رواه الترمذي)
Dalam hadits ini diterangkan bahwa Allah, Malaikat, penghuni langit dan bumi, hingga seekor semut di rumahnya serta ikan semuanya mendoakan orang yang mengajari manusia tentang kebaikan. Yang dimaksud dengan sholawat dari Allah adalah pemberian rahmat. Sedangkan sholawat dari para malaikat dan makhluk yang lainnya adalah istighfar.*
Mengajar Sungguh merupakan kedudukan yang sangat mulia. Rahmat dari Allah yang selalu diharapkan setiap insan, dalam hadits diatas dijaminkan kepada orang yang mengajarkan kebaikan. Ia juga mendapat doa ampunan dari seluruh makhluk Allah swt baik yang di Bumi maupun Langit. Saya rasa dua hal tersebut sudah cukup untuk memotivasi setiap orang yang memiliki ilmu untuk mengajarkan apa yang telah ia ketahui.
Kemudian, apa yang dimaksud dengan 'kebaikan' dalam hadits tersebut? yang dimaksud dengan kebaikan dalam hadits tersebut adalah ilmu agama dan segala sesuatu yang dapat menyelamatkan manusia (dari kerugian dunia dan akhirat)**.
Kedua, hadits :
فوالله لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّه بِك رَجُلًا وَاحِدًا خَيْر لَك مِنْ حُمُر النَّعَم (رواه البخاري ومسلم)
Artinya kurang lebih : Demi Allah, sesungguhnya kamu menjadi sebab pemberian hidayah Allah terhadap satu orang adalah lebih baik daripada mendapat binatang ternak. (HR : Bukhori Muslim)
Hadits di atas adalah penggalan hadits dari kisah perang di Khaibar. Yang intinya adalah kita harus menyampaikan ajaran Islam kepada musuh sebelum kita perangi. Ketika musuh yang kita perangi mendapatkan hidayah Allah dan memeluk islam adalah lebih baik daripada mereka kita kalahkan dan kita ambil harta mereka. Ada juga yang mengatakan bahwa maksud hadis tersebut adalah ketika kita menjadi sebab hidayah satu orang adalah lebih baik dari pada mendapatkan harta kemudian kita sedekahkan.
Bukan hanya orang kafir yang membutuhkan hidayah (untuk masuk islam), akan tetapi orang islam pun memerlukan hidayah. Yaitu hidayah untuk mengamalkan apa yang ada dalam agama islam. Banyak orang islam yang tidak mendapatkan hidayah untuk mengerjakan sholat, membayar zakat, cara berpuasa yang benar dan bagaimana cara bersikap kepada orang lain. Karena tak seorangpun yang dapat mengerjakan amal sholeh kecuali setelah mendapatkan hidayah Allah swt.
Dalam hadits diatas lafadh hidayah tidak dibatasi dengan hidayah tertentu. Maka hadits tersebut mencakup dua hidayah diatas, hidayah masuk islam dan hidayah mengamalkan apa yang ada di dalam islam. Tidak diragukan lagi bahwa penyelenggara halaqoh ta'lim adalah orang yang menjadi sebab orang-orang awam mendapatkan hidayah untuk mengamalkan apa yang ada dalam islam.
Peran kita dalam hidayah sesuai hadits diatas adalah sekedar hidayah irsyad. Karena hidayah taufik hanya milik Allah swt. Wallahu a'lam.
Pada halaman berikutnya Al-Habib menyebutkan ayat 122 surat Al-Taubah yang berbunyi :

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Pada ayat diatas diterangkan –wallahu a'lam bimurodihi- agar sebagian umat islam ada yang pergi untuk mempelajari agama islam. Kemudian setelah mereka pulang ke kampung halaman mereka harus mengajarkan apa yang telah mereka pelajari kepada kaum mereka*** . Ini adalah salah satu dari beberapa maksud ayat diatas yang disebutkan oleh mufassirin. Selengkapnya bisa anda baca di buku-buku tafsir.
Setelah Al-Habib memotivasi kita untuk menyelenggarakan halaqoh ta'lim, beliau mengingatkan kita untuk memperbaiki niat kita.
Niat merupakan rukun terpenting dalam setiap kegiatan kita. Banyak orang yang mengerjakan amal kebaikan akan tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa karena niatnya yang tidak baik. Banyak pula pekerjaan mubah yang menjadikan sebab mendekatkan diri kepada Allah swt karena niatnya yang baik. Ketika kita menyelenggarakan halaqoh ta'lim, kita harus berniat ikhlas karena Allah swt, menunaikan kewajiban seorang yang telah mengetahui sebagian ilmu, jihad di jalan Allah swt dan niat-niat yang lain selama dalam koridor niat baik****.
Tidak sedikit orang menyelenggarakan halaqoh ta'lim tapi niatnya tidak baik. Misalnya menyelenggarakan halaqoh agar dianggap pandai, dihormati, diberi harta, atau karena menyaingi halaqoh di masjid kampung sebelah. Biasanya halaqoh seperti itu tidak akan langgeng dan tidak bermanfaat. Dan yang terpenting adalah penyelenggaranya tidak mendapatkan apa-apa selain jerih payah dan buang-buang waktu.
Sebagian dari kita biasanya sulit untuk ikhlas dalam mengerjakan apapun, termasuk menyelenggarakan halaqoh ta'lim. Jika kita belum bisa ikhlas, maka yang terpenting adalah kita tidak berniat buruk. Kita jauhi niat-niat yang bisa merusak amal. Kemudian kita usahakan untuk memasukan niat-niat yang baik. Insya Allah seiring berjalannya waktu kita akan ikhlas karena Allah swt.
Selain kita -sebagai penyelenggara halaqoh ta'lim- berniat dengan baik, peserta halaqoh kita juga harus diajari niat ikhlas. Maka akan lebih baik jika hari pertama pembukaan halaqoh ta'lim diisi dengan ceramah tentang pentingnya niat. Niat apa saja yang harus dijauhi. Kemudian mengajarkan niat apa saja yang sebaiknya dilakukan. Sehingga pada pertemuan kedua, baik pengajar maupun murid semuanya akan datang dengan niat yang baik. Wallahu A'lam.
*Al-Taisir syarh al-Jami' al-Shoghir juz : 2 hal : 330 maktabah syamilah.
**Tuhfatul Ahfadzi, juz : 6 hal. : 484 maktabah syamilah.
***Tafsir Ibnu Katsir, surat al-taubah 122.
****Untuk lebih lengkapnya bisa lihat kitab al-Niat karangan Habib Sa'ad Al-Idrus

(Bersambung insya Allah).

Selengkapnya....

TERUS MELANGKAH DALAM BERSERAH

(ibnu Atho'illah)
Jangan berkawan dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu dan pembicaraanya tidak membimbing kejalan Allah.




Boleh jadi engkau berbuat buruk tetapi tampak olehmu sebagai kebaikan lantaran engkau berkawan dengan orang yang tingkah lakunya lebih buruk darimu

Selengkapnya....

Rangkaian Kehidupan

Oleh: Makrufi Syuaib*
Teman…! kita seringkali menganggap dunai ini sebagai sesuatu yang sulit, dan kita merangkainya dengan hati penuh pilu. Dengan kata lain, dunia bagi kita bagaikan benang yang kusut yang penuh dengan keruwetan.




Namun, kalau kita melihat sisi lain dunia, ada banyak keindahan yang hadir di sana dan juga ada banyak kesenangan yang mampu diwujudkan asalkan kita mau melihat dengan tekun dan jeli. Begitu juga dengan kegagalan yang menimpa kita seringkali kita jadikan kegagalan tersebut sebagai alasan untuk berhenti melangkah, padahal kalau kita bersikap seperti itu, bisa jadi kita dikatakan orang yang keliru, sebab kegagalan adalah sebuah cara Allah SWT. dalam mengajarkan kepada kita tentang arti kesungguhan. Kegagalan adalah sebuah usaha yang tak akan pernah berakhir dan sebuah pelajaran tentang bagaimana meraih sebuah harapan yang sudah lewat.

Memang tak ada kesuksesan yang diraih dalam waktu semalam, oleh sebab itu, yakinlah dengan kesabaran yang kita jalani, kita akan meraih semua harapan dan impian kita. Karena setiap makhluk mempunyai keunikan masing-masing, Allah menitipkan sepasang sayap pada burung untuk terbang dan mengamanatkan sepasang sirip kepada ikan agar bisa berenang.
Begitupun dengan kita, Allah menitipkan kepada kita tubuh yang sempurna, pikiran yang cerdas dan beragam kemuliaan yang kita miliki. Tapi Alllah menyandingkan semua itu dengan cobaan, tantangan, hambatan dan dengan ujian buat kita.

Itu semua adalah bagian dari perjalanan kita dalam belajar dan berusaha serta merupakan rencana Allah untuk kita, agar memahaminya terhadap apa yang terjadi di sekitar lingkungan kita. Layakkah kita untuk berhenti? Pantaskah kita mudah mengeluh? Jawabannya ada pada hati kita sendiri. Dan saya yakin semua ujian itu adalah rahasia Allah agar kita makin sempurna, pemikiran kita semakin terbuka dan kemuliaan kita semakin nampak.

Jadi, rangkaian gambar dunia ini mana yang akan kita susun? Dunia yang penuh angkara atau dunia yang penuh cinta? Dunia yang penuh duri atau dunia yang penuh peduli? Kita sendirilah yang akan merangkai potongan-potongan gambaran itu.

* Mahasiswa Univ. Al Ahgaff mustawa awal

Selengkapnya....

Keutamaan Ilmu Mengungguli Harta

Oleh : Sri Yanto Rosyid )
Pertama : ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta warisan para raja dan orang kaya.
Kedua : pemilik harta ketika meninggal dunia maka hartanya juga akan meninggalkannya, sedangkan ilmu akan ikut masuk ke dalam kubur.
Ketiga : harta dapat diperoleh orang mukmin, kafir, soleh, dan orang jahat sekalipun, sedangkan ilmu yang manfaat tidak bisa diperoleh kecuali oleh orang mukmin.

(Keempat : orang yang 'alim dibutuhkan oleh raja dan orang di bawah mereka, sedangkan pemilik harta hanya dibutuhkan oleh orang miskin dan orang kuat.
Kelima : diri manusia akan menjadi mulia dan bersih dengan mengumpulkan ilmu dan menghasilkannya dan hal tersebut sebagian dari kesempurnaan diri (jiwa) dan kemuliaannya, sedangkan harta tidak bisa membersihkan jiwa dan menyempurnakannya, bahkan, sifat kesempurnaan jiwa akan berkurang kalau seseorang kebanyakan mengumpulkan harta. Dari situ, sifat kikir, bakhil dan sangat tamak kepada harta akan muncul. Maka, tamak pada harta mengalahkan ilmu adalah keadaan berkurangnya jiwa adapun tamak pada ilmu mengalahkan harta adalah keadaan kesempurnaan jiwa.
Keenam : harta mengajak pada diri manusia ke sewenang-wenangan dan angkuh, sedangkan ilmu mengajaknya ke tawadlu'.
Ketujuh : kaya ilmu lebih mulia dari pada kaya harta, karena harta kalau hilang pada waktu malam maka besok harinya pemiliknya akan menjadi fakir juga miskin. Sedangkan seorang yang kaya ilmu tidak kuatir akan kefakiran bahkan ilmunya akan terus bertambah selamanya, maka ilmu adalah kekayaan yang tinggi secara hakikatnya, seperti dikatakan,
(saya kaya tanpa harta dari manusia semuanya %
sesungguhnya kekayaan yang mulia tidak dengan hartanya.)
Kedelapan : harta menjadikan budak pemiliknya dan pecintanya, adapun ilmu menjadikan pemiliknya budak Tuhannya. Maka ilmu tidak mengajak pemiliknya kecuali kepada penghambaan kepada Allah SWT. saja.
Kesembilan : harga orang kaya harta adalah hartanya, sedangkan harga orang alim adalah ilmunya, maka orang kaya harta dihargai dengan hartanya dan ketika hartanya hilang hilanglah harganya. Sedangkan orang alim tidak akan hilang harganya dan bahkan selalu dalam peningkatan.
Kesepuluh : mutiara harta adalah dari jenis mutiara badan, sedangkan mutiara ilmu adalah dari jenis mutiara ruh dan perbedaan antara keduaanya adalah seperti perbedaan ruh dan jasad.
Kesebelas : harta habis dengan dibelanjakan, sedang ilmu bertambah dengan membelanjakannya.
Kedua belas : orang alim ketika ditawarkan kepadanya untuk menukar sebagian ilmunya dengan dunia seisinya maka dia tidak akan merelakan ilmunya untuk dunia sebagai gantinya. Sedangkan orang kaya yang berakal ketika melihat kemuliaan orang alim dan kesempurnaanya, maka dia juga suka andai kata dia punya ilmunya orang alim yang mendampingi kekayaannya.
Ketiga belas : orang alim mengajak manusia kepada Allah SWT dengan ilmu dan perangainya, sedangkan penghimpun harta mengajak mereka kepada dunia dengan perangainya dan ucapannya.
Keempat belas : kaya harta terkadang menjadi sebab rusaknya pemiliknya karena sesungguhnya harta sangat disukai nafsu, dan ketika sang pemilik melihat orang lain yang mengalahkan kecintaanya dia akan berusaha merusaknya. Adapun kaya ilmu menjadi sebab kehidupan seseorang ketika melihat orang yang mendahuluinya dengan ilmu, mereka mencintainya dan melayaninya.
Kelima belas : kenikmatan yang dihasilkan dari kaya harta pemiliknya merasakan dengan nafsu maka sebangsa khayalan. Adapun menghabiskannya dalam syahwatnya adalah perbuatan hewan. Dan kenikmatan ilmu adalah bangsa akal dan berbeda antara keduanya.
Keenam belas : kaya harta menjadikan benci pada kematiaan dan berenak-enakan dengan hartanya, adapun ilmu membuat seorang hamba cinta bertemu dengan Tuhannya dan membuat zuhud terhadap dunia ini.
Ketujuh belas : harta dipuji pemiliknya dengan ketiadaannya dari harta, sedangkan ilmu dipuji keberadaan ilmu pada pemiliknya.
Kedelapan belas : ilmu lebih baik dari pada harta. Ilmu menjagamu, sedangkan kamu menjaga harta.
Kesembilan belas : orang alim adalah hakim, sedangkan harta adalah suatu yang dihakimi.
Keduapuluh : kenikmatan yang dihasilkan dari harta hanyalah keadaan yang baru saja, adapun keadaan langgengnya adakalanya habis atau berkurang karena berpindahnya hasil tambah selamanya, maka harta itu selalu dalam kefakiran yang terus menerus karena tetapnya dalam tamak, berbeda dengan kaya ilmu, nikmatnya itu dalam keadaan tetap dan bahkan bertambah.
Keduapuluh satu : cinta ilmu dan mencarinya adalah dasar sifat ketaatan, sedangkan cinta harta dan mencarinya adalah dasar setiap kejelekan. (Wallahu 'alam.)

Penulis adalah mahasiswa Univ. Al Ahgaff tingkat II.

Selengkapnya....