Dosa

Oleh: Cohv*
Ini dosa
Cukup buatku putus asa
Ingin menggali kubur



Tidur tanpa bangun melebur
Andai saja hilang rasa
Dan tak peduli akan siksa

Tuhan; kuiman Engkau Esa…
Maka ampuni semua dosa
Benahi apa yang sisa
Sebelum aku direnggut masa

* mahasiswa univ. Al aAhgaff tingkat dua

Selengkapnya....

Rangkaian Kehidupan

Oleh: Makrufi Syuaib*
Teman…! kita seringkali menganggap dunai ini sebagai sesuatu yang sulit, dan kita merangkainya dengan hati penuh pilu. Dengan kata lain, dunia bagi kita bagaikan benang yang kusut yang penuh dengan keruwetan.




Namun, kalau kita melihat sisi lain dunia, ada banyak keindahan yang hadir di sana dan juga ada banyak kesenangan yang mampu diwujudkan asalkan kita mau melihat dengan tekun dan jeli. Begitu juga dengan kegagalan yang menimpa kita seringkali kita jadikan kegagalan tersebut sebagai alasan untuk berhenti melangkah, padahal kalau kita bersikap seperti itu, bisa jadi kita dikatakan orang yang keliru, sebab kegagalan adalah sebuah cara Allah SWT. dalam mengajarkan kepada kita tentang arti kesungguhan. Kegagalan adalah sebuah usaha yang tak akan pernah berakhir dan sebuah pelajaran tentang bagaimana meraih sebuah harapan yang sudah lewat.

Memang tak ada kesuksesan yang diraih dalam waktu semalam, oleh sebab itu, yakinlah dengan kesabaran yang kita jalani, kita akan meraih semua harapan dan impian kita. Karena setiap makhluk mempunyai keunikan masing-masing, Allah menitipkan sepasang sayap pada burung untuk terbang dan mengamanatkan sepasang sirip kepada ikan agar bisa berenang.
Begitupun dengan kita, Allah menitipkan kepada kita tubuh yang sempurna, pikiran yang cerdas dan beragam kemuliaan yang kita miliki. Tapi Alllah menyandingkan semua itu dengan cobaan, tantangan, hambatan dan dengan ujian buat kita.

Itu semua adalah bagian dari perjalanan kita dalam belajar dan berusaha serta merupakan rencana Allah untuk kita, agar memahaminya terhadap apa yang terjadi di sekitar lingkungan kita. Layakkah kita untuk berhenti? Pantaskah kita mudah mengeluh? Jawabannya ada pada hati kita sendiri. Dan saya yakin semua ujian itu adalah rahasia Allah agar kita makin sempurna, pemikiran kita semakin terbuka dan kemuliaan kita semakin nampak.

Jadi, rangkaian gambar dunia ini mana yang akan kita susun? Dunia yang penuh angkara atau dunia yang penuh cinta? Dunia yang penuh duri atau dunia yang penuh peduli? Kita sendirilah yang akan merangkai potongan-potongan gambaran itu.

* Mahasiswa Univ. Al Ahgaff mustawa awal

Selengkapnya....

Tanggapan…

Kamis, 23 April 2009
Oleh: H2O Wangi*

Makalah yang didiskusikan dalam kajian ilmiah pada hari Jum`at, 24 April 2009 yang disampaikan oleh M. Birrul Alim dengan judul Islam, Demokrasi dan Kesetaraan Manusia.




Pada dasarnya manusia adalah sama derajatnya di sisi Allah SWT. sama-sama makhluk Allah, sama-sama ciptaan-Nya yang lemah dan tak berdaya. Tidak mengetahui apa-apa dan yang jelas tidak berhak menjudge terhadap sesamanya bahwa dia lebih sempurna, lebih baik dan mengganggap yang lainnya rendah dan dalam jalan yang salah. Karena apa?, karena kita sama-sama makhluk-Nya. Yang membedakan adalah ketaqwaan kita terhadap Sang Pencipta.
Kita sebagai manusia tidak diperintahkan untuk benar, tetapi kita diperintahkan untuk selalu berbuat benar dengan berpegang teguh pada al-Quran dan hadist Nabi Muhammad SAW.
Islam adalah agama rahmatan lil `alamin tiada paksaan untuk masuk Islam, La ikraaha fi ad-diin. Dan Islam pun juga tidak membiarkan orang terjerumus dalam kesesatan. Kita dianjurkan untuk mengajak kepada kebaikan, namun tentunya dengan cara-cara yang makruf pula. Islam tidak memperbolehkan kita berbuat seenaknya sendiri demi memperoleh tujuan; dalam hal agama pun seperti itu, apalagi dalam cabang-cabangnya?!. "Namun", dengan tanda kutip, selama kita masih bisa mengusahakan dengan cara-cara yang baik, maka selama itu pula kita tidak diperbolehkan berbuat seenaknya sendiri.
Islam juga agama yang warna-warni, dalam artian meskipun Islam satu adanya tapi masing-masing pemeluknya mempunyai pemahaman yang berbeda-beda tentang Islam. Mungkin dikarenakan kadar ilmu dan pemahamannya yang berbeda, atau bisa juga karena kurangnya wawasan, karena Islam itu luas, tak sesempit apa yang kelihatan di depan mata kita. Maka dari itu, dalam pemahaman dan penerapan suatu hukum dalam Islam kita perlu memahami apa syarat-syarat yang ada di dalamnya dan tidak meninggalkan tinjauan sosiologi-antropologis suatu masyarakat. Seperti yang ditulis oleh M. Birrul Alim, sistem demokrasi yang ada saat ini adalah demokrasi yang "bobrok" dan dijustifikasi sebagai sistem "kafir" karena tidak sesuai dengan mabda` syuro yang ada dalam masa Nabi dan setelahnya pada masa silam. Lebih jauh lagi sistem demokrasi adalah over toleran antar umat beragama. Penanggap bingung, tendensi apakah yang beliau pakai, jangan-jangan karena kurang telitinya dalam memahami teks atau kurang pahamnya realita yang ada yang menuntut seseorang paham akan hal itu. Sebetulnya bicara masalah demokrasi dalam konteks kekinian tidak relevan lagi alias ketinggalan jaman atau "Miss tomorrow", toh seperti yang dikatakan oleh Asef Bayat, Direktur baru ISIM (Internasional Institute for the study of Islam in the Modern World) bahwa dunia Islam khususnya negara Arab dan Timur Tengah sedang "in the process of democracy". Kesimpulan ini bukan semata-mata pandangan tanpa patokan. Lebih jauh lagi, kesimpulan Bayat ini didasarkan pada riset tentang "Post Islamist" belum lama ini.
Yang pasti demokrasi adalah opsi terbaik yang ada saat ini, bila dihadapkan pada masyarakat yang plural dan berbeda-beda ini. Sistem ini didasarkan atas partisipasi publik, penghargaan pada minoritas politik dan agama, menjunjung tinggi kebebasan berpikir, sipil dan saling toleransi. Bukankah semua itu adalah anjuran agama Islam yang di dalamnya sangat menjunjung tinggi kebebasan?. Namun kita juga tidak tutup mata bahwa dalam kebebasan itu juga ada dhowabith-dhowabith yang tak boleh di terjang. Rasulullah SAW. adalah seorang yang sangat demokratis. Beliau adalah sebagai lambang demokratisasi Islam. Selain itu dalam al-Quran pun sudah disebutkan dalam surat as-Syuro: 38 yang artinya: "Sedang mereka (diputuskan) dengan musyawarah diantara mereka"; surat al-Imran: 159, : "Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu"….dst. Nah, dari sini kita lihat dalam memutuskan setiap masalah sebaiknya kita dituntut bermusyawarah terlebih dahulu, sedangkan kita tahu mabda` syuro ini salah satu landasan demokrasi yang ada, walau saya tidak memungkiri dalam setiap sistem pasti ada kelemahannya atau kelebihannya; adakalanya dalam praktek atau dalam sisi-sisi yang lain. Namun, apakah dengan itu, lantas kita menjudge sistem- sistem itu bobrok?.
Bukankah inilah arti Islam itu elastis dan rahmatan li al-` alamin yang menjunjung tinggi sikap toleransi selama tidak dalam hal yang intim dalam hal agama. Misal kita diharuskan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang Kristen seperti pergi ke gereja di hari minggu. Hal in jelas bukan arti solidaritas atau toleransi antar umat beragama. Namun, yang dimaksud di sini adalah kita tidak mengganggu mereka dan tidak memaksakan apa yang kita anggap benar. Karena dalam Islam itu tidak ada paksaan. Lebih jauh lagi di situ ditulis: "Demokrasi menyetarakan kedudukan antara umat Islam dan umat selain Islam, yaitu mempunyai hak dan kewajiban yang sama……". Ingat! Kita berbicara dalam ranah "demokrasi" bukan dalam ranah ketuhanan… Bukankah kita memang harus tidak boleh membedakan antara hak dan kewajiban antara Islam dan bukan Islam atas nama negara dalam konteks "Indonesia". Masyarakat Indonesia sangat beracam-macam; ada Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu dsb. Akan jadi apakah Indonesia jika setiap warganya yang berbeda-beda agama dibedakan juga hak dan kewajibannya?. Padahal kita hidup pada satu negara dan sekali lagi, ini bukan ranah "ketuhanan" tapi ini urusan duniawi. Sungguh pribadi saya terkesan banget sama makalah saudara M. Birrul Alim tapi terkesannya kok masih ada orang yang berpandangan seperti ini. Saya berharap selain punya konsep anda diharuskan juga mempunyai solusi yang tepat. Bukan memberi konsep saja namun tanpa solusi, karena semua orang bisa mengerjakan hal itu.
Akhirnya, kesempurnaan, kebenaran mutlak adalah hanya milik Allah semata dan kelemahan adalah milik kita….
"Don't think you are the best, but think we are the same and we have to do the best for all side".

*Mahasiswa Univ. Al Ahgaff tingkat satu.

Selengkapnya....

'PESANTREN' VS ARAB

Oleh: Muhammad bin Naufal*

Terkadang realita itu membuat kita terkecoh. Tak jarang seorang yang mulanya rajin ibadah, tersandung dengan realita akhirnya dia mengesampingkan ibadahnya dan diganti dengan bekerja. Tak sedikit pelajar yang rajin dan sering mendapatkan 'medali' penghargaan, harus berbalik setir untuk bekerja dikarenakan realita yang memaksa. Dan hal ini tidak dapat dipungkiri dengan mudah. Bisa dikatakan bahwa realita adalah 'si pemaksa ulung'.

Di saat zaman modern ini, banyak realita yang menuntut untuk instant. Sarana dan prasarana dicurahkan untuk menginstankan semua hal. Mulai diciptakan mi instant yang siap saji hanya dengan beberapa menit saja, ada kereta yang berkecepatan tinggi, tentunya ini akan menginstankan waktu. Instant dan efesien merupakan ukuran masa sekarang. Dan tak ketinggalan pula, kurikulum pendidikan diolah se-instan dan se-efesien mungkin. Kursus kilat, les-les dan tetek bengeknya dimunculkan dan tak lain alasannya agar instant dan efesien waktu.
Diantara lembaga pendidikan yang mulai "terkena polusi", yakni terpengaruh realita ini adalah pesantren. Lembaga ini merupakan lembaga tertua di Indonesia yang menelorkan pejuang-pejuang saat masa peperangan, mencetak kader yang dapat mewarnai bangsa. Lembaga ini pun mulai banyak menuai kritik dikarenakan tidak sesuai dengan realita, dan tidak relevan. Tidak relevan disini ditujukan pada metode pendidikan, bukan ajaran. Metode atau manhaj ta'lim dan ta'allum dengan system makna gundul ini yang mendapat sorotan. Banyak kalangan yang menilai ngaji bandongan dengan makna gandul ini tidak relevan dan sudah saatnya ditanggalkan. Mereka mempunyai beberapa argumen yang sangat tajam, diantaranya :
1. kurang efesien
Manhaj ini tidak efesien, karena membuang waktu. Waktu yang semestinya dialokasikan cukup satu jam untuk menerangkan, akibatnya memakan waktu dua sampai tiga jam. Bahkan yang sering terjadi di lapangan adalah prioritas berlebih terhadap makna ketimbang pemahaman. padahal yang lebih vital adalah memahami isi kitab itu, sebab makna bukan kebutuhan primer.
2. Melahirkan Ketergantungan
Efek negatif lain dari manhaj ini adalah melahirkan rasa ketergantungan pada makna bagi santri. Seringkali kang santri (sebutan untuk anak yang belajar di kurikulum ini/pesantren, red) merasa sulit untuk membaca karena makna tidak tertera di kitabnya.
Tapi, pendapat ini tidak semua benar. Tentunya, dalam semua hal terdapat sisi baik disamping sisi buruk. Dua hal ini, baik-buruk, siang-malam, cantik-jelek dan sebagainya adalah fenomena umum yang selalu berhadapan.
Sisi positif dari metode "ngaji badongan" dengan dimaknai adalah membantu kang santri dalam masalah I'rob. Secara tidak langsung, kitab yang bermakna akan mengurangi kesulitan murid dalam ilmu gramatikanya. Contoh:
Kalimat ALHAMDULILLAHI ROBBIL 'ALAMIN.
Jika dimaknai akan menjadi: utawi sekabeani puji patang perkara iku tetep kagungane Allah kang mengerani wong alam kabeh.
Di sini sangat jelas. Dalam metode memberi makna atau bahasa lain maknani sangat membantu. Dalam perspektif gramatika arab alif lam yang tertera pada kata-kata AL HAMDU merupakan alif lam yang berfungsi istighroqul jinsi (mengandung arti menyeluruh dan luas serta memuat arti kull (setiap/seluruh) ). Maka layak kiranya jika al hamdu diartikan setiap pujian atau seluruh pujian yang bahasa makna jawanya adalah sekabehan puji patang perkara. Maksudnya adalah segala puji empat perkara. Kenapa harus empat? Karena pujian itu hanya berpusat pada empat hal. Yakni Sang Khaliq memuji makhluknya, atau sebaliknya yaitu makhluk memuji Sang Khaliq, atau Sang Khaliq memuji dzatNya sendiri dan yang terakhir adalah makhluk memuji sesama makhluk. Jadi tepatlah makna jawa yang diartikan utawi sekabehani puji patang perkara. Dan pada lafadz alamin itu merupakan bentuk plural dari kata alam. Maka tepat pula jika diartikan kang mengerani wong alam kabeh. Kata kabeh disini menunjukkan kata alamin adalah jama'.
Sekarang mari kita komparasikan dengan terjemahan Indonesia. Maka kata ALHAMDULILLAHIROBBIL 'ALAMIN memiliki arti "segala puji bagi Allah yang menjadi tuhan alam semesta. Tentunya kita sudah dapat melihat titik kelemahannya. Yakni kurang jelas dalam arti 'segala puji'. Karena kata segala itu lebih global dan belum tahshilul maqsud, belum tercapai maksud. Meskipun sudah mendekati. Dan kata 'alam semesta' itu hanya mengartikan 'alam. 'alam adalah ma siwallahi, semua hal selain Allah.
Jelas sudah sisi positif makna jawa. Dan sisi lain adalah melatih kesabaran dan membantu memahami. Dengan memaknai maka pemahaman kang santri akan terangsang sebelum ustadz menerangkannya. Bisa jadi rentang waktu untuk memaknai ini dijadikan even berharga bagi kang santri untuk meraba-raba maksud kata itu. Dan ketika ustadz menerangkan, kang santri hanya mengulangi memori pemahamannya. Dengan banyak mengulangi memahami, maka kang santri akan semakin lekat pemahamannya. Dengan tanpa memaksa kita dapat mengambil kesimpulan sebenarnya metode maknani itu lebih efesien. Kenapa? Karena makna jawa lebih membantu dalam gramatikalnya. Hal ini sangat mengurangi murid dalam menguras waktu untuk menilik lagi kitab gramatika (nahwu-shorof)
Dan sistem yang sangat menguntungkan adalah banyak fase untuk memahami pelajaran. Fase pertama kang santri disuruh menulis bahan yang akan dikaji, kedua ustadz memaknai jawa bahan yang sudah ditulis kang santri dan terakhir dijelaskan. Patrian tiga sistem ini tentunya sangat membantu. Pada fase pertama yakni tahapan menulis bahan yang akan disajikan. Santri dapat memahami sekilas dan melatih kemandirian dan ketelitian. Disamping tujuan yang lain yakni melatih menulis dengan baik. Dan fase-fase berikutnya juga dipusatkan agar murid dapat memahami kitab dengan sempurna.
Sekarang mari kita bandingkan dengan metode simposium, lokakarya, seminar atau yang lain. Dalam sistem seminar misalnya, hadirin akan disodorkan lembaran kertas yang sudah diketik dan ditulis oleh pemakalah. Kemudian hadirin akan dijadikan audiens atau mustami'in. benar ini merupakan metode efesien. Karena audiens hanya dipusatkan pada memahami makalah. Akan tetapi yang sering terjadi di lapangan adalah audiens sibuk (baik sibuk dengan hp, atau yang lain) dan tidak memahami makalah dengan benar, banyak pula yang tampak jenuh dan mengantuk. Daya serap tiap hadirin juga harus diperhitungkan. Apakah daya serap hadirin akan cepat seperti pemakalah menyampaikan lembaran makalahnya? Jawabnya adalah tidak semua bisa cepat memahami. Padahal waktu seminar ini terbatas. Maka efesiensi dalam memahami ini pun menjadi gugur.
Lantas setelah menjajaki dan membandingkan beberapa metode tadi, kita akan mencoba menemukan titik temu. Dengan manhaj tanpa makna jawa ( sebut saja metode ala arab) keunggulannya adalah efesiensi waktu dan relevan dengan situasi, metode jawa mempunyai kelebihan seperti tersebut di atas. Maka metode yang tepat adalah penggabungan. Metode makna jawa tidak ditinggal sepenuhnya, dan metode langsung memahami tidak diterapkan sepenuhnya. Maka the mind solution adalah metode langsung memahami dengan menyuruh murid menyelami gramatika tiap katanya dengan sedikit menanyakan I'rab dan posisi kalimat itu. Wallahu A'lam

* Mahasiswa Univ. Al Ahgaff tingkat dua.

Selengkapnya....

'PESANTREN' VS ARAB

Oleh: Muhammad bin Naufal*

Terkadang realita itu membuat kita terkecoh. Tak jarang seorang yang mulanya rajin ibadah, tersandung dengan realita akhirnya dia mengesampingkan ibadahnya dan diganti dengan bekerja. Tak sedikit pelajar yang rajin dan sering mendapatkan 'medali' penghargaan, harus berbalik setir untuk bekerja dikarenakan realita yang memaksa. Dan hal ini tidak dapat dipungkiri dengan mudah. Bisa dikatakan bahwa realita adalah 'si pemaksa ulung'.

Di saat zaman modern ini, banyak realita yang menuntut untuk instant. Sarana dan prasarana dicurahkan untuk menginstankan semua hal. Mulai diciptakan mi instant yang siap saji hanya dengan beberapa menit saja, ada kereta yang berkecepatan tinggi, tentunya ini akan menginstankan waktu. Instant dan efesien merupakan ukuran masa sekarang. Dan tak ketinggalan pula, kurikulum pendidikan diolah se-instan dan se-efesien mungkin. Kursus kilat, les-les dan tetek bengeknya dimunculkan dan tak lain alasannya agar instant dan efesien waktu.
Diantara lembaga pendidikan yang mulai "terkena polusi", yakni terpengaruh realita ini adalah pesantren. Lembaga ini merupakan lembaga tertua di Indonesia yang menelorkan pejuang-pejuang saat masa peperangan, mencetak kader yang dapat mewarnai bangsa. Lembaga ini pun mulai banyak menuai kritik dikarenakan tidak sesuai dengan realita, dan tidak relevan. Tidak relevan disini ditujukan pada metode pendidikan, bukan ajaran. Metode atau manhaj ta'lim dan ta'allum dengan system makna gundul ini yang mendapat sorotan. Banyak kalangan yang menilai ngaji bandongan dengan makna gandul ini tidak relevan dan sudah saatnya ditanggalkan. Mereka mempunyai beberapa argumen yang sangat tajam, diantaranya :
1. kurang efesien
Manhaj ini tidak efesien, karena membuang waktu. Waktu yang semestinya dialokasikan cukup satu jam untuk menerangkan, akibatnya memakan waktu dua sampai tiga jam. Bahkan yang sering terjadi di lapangan adalah prioritas berlebih terhadap makna ketimbang pemahaman. padahal yang lebih vital adalah memahami isi kitab itu, sebab makna bukan kebutuhan primer.
2. Melahirkan Ketergantungan
Efek negatif lain dari manhaj ini adalah melahirkan rasa ketergantungan pada makna bagi santri. Seringkali kang santri (sebutan untuk anak yang belajar di kurikulum ini/pesantren, red) merasa sulit untuk membaca karena makna tidak tertera di kitabnya.
Tapi, pendapat ini tidak semua benar. Tentunya, dalam semua hal terdapat sisi baik disamping sisi buruk. Dua hal ini, baik-buruk, siang-malam, cantik-jelek dan sebagainya adalah fenomena umum yang selalu berhadapan.
Sisi positif dari metode "ngaji badongan" dengan dimaknai adalah membantu kang santri dalam masalah I'rob. Secara tidak langsung, kitab yang bermakna akan mengurangi kesulitan murid dalam ilmu gramatikanya. Contoh:
Kalimat ALHAMDULILLAHI ROBBIL 'ALAMIN.
Jika dimaknai akan menjadi: utawi sekabeani puji patang perkara iku tetep kagungane Allah kang mengerani wong alam kabeh.
Di sini sangat jelas. Dalam metode memberi makna atau bahasa lain maknani sangat membantu. Dalam perspektif gramatika arab alif lam yang tertera pada kata-kata AL HAMDU merupakan alif lam yang berfungsi istighroqul jinsi (mengandung arti menyeluruh dan luas serta memuat arti kull (setiap/seluruh) ). Maka layak kiranya jika al hamdu diartikan setiap pujian atau seluruh pujian yang bahasa makna jawanya adalah sekabehan puji patang perkara. Maksudnya adalah segala puji empat perkara. Kenapa harus empat? Karena pujian itu hanya berpusat pada empat hal. Yakni Sang Khaliq memuji makhluknya, atau sebaliknya yaitu makhluk memuji Sang Khaliq, atau Sang Khaliq memuji dzatNya sendiri dan yang terakhir adalah makhluk memuji sesama makhluk. Jadi tepatlah makna jawa yang diartikan utawi sekabehani puji patang perkara. Dan pada lafadz alamin itu merupakan bentuk plural dari kata alam. Maka tepat pula jika diartikan kang mengerani wong alam kabeh. Kata kabeh disini menunjukkan kata alamin adalah jama'.
Sekarang mari kita komparasikan dengan terjemahan Indonesia. Maka kata ALHAMDULILLAHIROBBIL 'ALAMIN memiliki arti "segala puji bagi Allah yang menjadi tuhan alam semesta. Tentunya kita sudah dapat melihat titik kelemahannya. Yakni kurang jelas dalam arti 'segala puji'. Karena kata segala itu lebih global dan belum tahshilul maqsud, belum tercapai maksud. Meskipun sudah mendekati. Dan kata 'alam semesta' itu hanya mengartikan 'alam. 'alam adalah ma siwallahi, semua hal selain Allah.
Jelas sudah sisi positif makna jawa. Dan sisi lain adalah melatih kesabaran dan membantu memahami. Dengan memaknai maka pemahaman kang santri akan terangsang sebelum ustadz menerangkannya. Bisa jadi rentang waktu untuk memaknai ini dijadikan even berharga bagi kang santri untuk meraba-raba maksud kata itu. Dan ketika ustadz menerangkan, kang santri hanya mengulangi memori pemahamannya. Dengan banyak mengulangi memahami, maka kang santri akan semakin lekat pemahamannya. Dengan tanpa memaksa kita dapat mengambil kesimpulan sebenarnya metode maknani itu lebih efesien. Kenapa? Karena makna jawa lebih membantu dalam gramatikalnya. Hal ini sangat mengurangi murid dalam menguras waktu untuk menilik lagi kitab gramatika (nahwu-shorof)
Dan sistem yang sangat menguntungkan adalah banyak fase untuk memahami pelajaran. Fase pertama kang santri disuruh menulis bahan yang akan dikaji, kedua ustadz memaknai jawa bahan yang sudah ditulis kang santri dan terakhir dijelaskan. Patrian tiga sistem ini tentunya sangat membantu. Pada fase pertama yakni tahapan menulis bahan yang akan disajikan. Santri dapat memahami sekilas dan melatih kemandirian dan ketelitian. Disamping tujuan yang lain yakni melatih menulis dengan baik. Dan fase-fase berikutnya juga dipusatkan agar murid dapat memahami kitab dengan sempurna.
Sekarang mari kita bandingkan dengan metode simposium, lokakarya, seminar atau yang lain. Dalam sistem seminar misalnya, hadirin akan disodorkan lembaran kertas yang sudah diketik dan ditulis oleh pemakalah. Kemudian hadirin akan dijadikan audiens atau mustami'in. benar ini merupakan metode efesien. Karena audiens hanya dipusatkan pada memahami makalah. Akan tetapi yang sering terjadi di lapangan adalah audiens sibuk (baik sibuk dengan hp, atau yang lain) dan tidak memahami makalah dengan benar, banyak pula yang tampak jenuh dan mengantuk. Daya serap tiap hadirin juga harus diperhitungkan. Apakah daya serap hadirin akan cepat seperti pemakalah menyampaikan lembaran makalahnya? Jawabnya adalah tidak semua bisa cepat memahami. Padahal waktu seminar ini terbatas. Maka efesiensi dalam memahami ini pun menjadi gugur.
Lantas setelah menjajaki dan membandingkan beberapa metode tadi, kita akan mencoba menemukan titik temu. Dengan manhaj tanpa makna jawa ( sebut saja metode ala arab) keunggulannya adalah efesiensi waktu dan relevan dengan situasi, metode jawa mempunyai kelebihan seperti tersebut di atas. Maka metode yang tepat adalah penggabungan. Metode makna jawa tidak ditinggal sepenuhnya, dan metode langsung memahami tidak diterapkan sepenuhnya. Maka the mind solution adalah metode langsung memahami dengan menyuruh murid menyelami gramatika tiap katanya dengan sedikit menanyakan I'rab dan posisi kalimat itu. Wallahu A'lam

* Mahasiswa Univ. Al Ahgaff tingkat dua.

Selengkapnya....