Wasathiyah Mengikis Fanatisme Sekte

Oleh: Najih Baihaqi*

Beberapa hari yang lalu kalangan akademisi Univ. Al Ahgaff dikejutkan dengan tersebarnya video dari cannel IQRA yang menayangkan aktivitas Muslimin yang berziarah di makam Zambal, Tarim-Hadhramaut-Yaman. Dalam video yang berdurasi sekitar satu jam itu, pembawa acara menayangkan berbagai kegiatan yang menurutnya adalah perbuatan bid'ah dan syirik, semisal ziarah kubur, membaca Al Quran di sampingnya, tawassul dan bahkan menuduh mereka menyembah kubur.


Mencoba mengorek kesalahan saudara semuslim yang menurutnya patut diberantas. Tak lama pula di tempat yang kini saya tempati, Tarim, terjadi pengeroyokan terhadap sebagian pelajar yang sedang mengadakan kajian kitab di salah satu masjid, yang diklaim bahwa masjid itu adalah milik sekte para pengeroyok. Saat tinggal di Indonesia, tak jarang pula saya menjumpai saudara semuslim yang menganggap bahwa Muslim yang tidak dari golonganya itu najis, sehingga ada larangan untuk memasuki masjid miliknya. Ada pula yang menuduh saudaranya celaka gara-gara tidak pernah mengadakan maulid. Tak sedikit pula teman mahasiswa di Indonesia yang curhat, kalau di kampus mereka, ada sebagian mahasiswa yang sering mengadakan kajian Islam di masjid kampus, namun isinya lebih sering membid'ahkan dan menyesatkan Muslim lainya, sehingga mengusik hati sebagian mahasiswa yang tak segenre dengan mereka. Paradigma fenomena yang saya paparkan di atas tak lain adalah imbas dari fanatisme sekte yang terkadang tidak disadari oleh umat Muslim, dimana hal tersebut dapat menimbulkan rasa benci yang berujung pertikaian fisik antar sesama Muslim.
Fanatisme oleh pepatah Arab dianalogikan seperti kobaran api yang dapat menghanguskan ukhuwah. Fanatisme adalah virus berbahaya karena tembok pertahanan Muslim bisa roboh karenanya. Seseorang yang terjangkit virus ini suka sibuk mencari aib saudaranya semuslim dan akhirnya melupakan dakwah pada Islam sendiri. Ia adalah virus yang terkadang tampak elok di pelupuk mata. Dikatakan virus elok, karena Muslim yang terjangkit fanatisme sekte akan merasa cuma sektenyalah penegak agama Allah dan menafikan lainya. Fakta yang kami paparkan di atas mungkin terjadi karena benci dan menganggap musuh saudara Muslim yang tidak segenre denganya. Berangkat dari sini, hati saya terdorong untuk memaparkan manhaj moderat berdakwah dan menawarkan pada umat Islam.

Memahami Manhaj Dakwah Moderat
Siapa yang tidak mengenal cendekia sekaligus da'i kondang internasional, Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz Tarim-Hadhramaut. Ulama' besar yang kerap keliling dunia untuk mengemban amanah dakwah, hingga muridnya berdatangan dari pelbagai benua: Eropa, Afrika, Asia bahkan sampai Amerika. Kunci kesuksesan beliau dalam berdakwah adalah mengimplementasikan manhaj wasathiyah atau moderat. Dalam berdakwah tak pernah sekalipun beliau membeberkan aib dari sekte lain, sampai itu Syiah sekalipun. Beliau dalam berdakwah, berusaha mencari titik temu yang menyatukan setiap sekte di dalamnya. Titik temu itu adalah Iman, Islam, dan Ihsan. Tiga dogma (rukun) inilah yang mempertemukan semua sekte dalam setiap segmen tubuh Islam, baik itu Salafy, Sunni, Khawarij ataupun Syiah. Dengan metode itu, Muslim dari sekte apapun bisa menerima dengan lapang dada dakwah beliau. Beliau ingin semua Muslim kembali pada Allah dengan tiga rukun tadi karena itulah inti dari agama Allah dan itulah hakikat dakwah yang dicontohkan oleh Rasululllah. Itulah Habib Umar dengan manhaj wasathiyahnya. Jadi, manhaj moderat dalam berdakwah yang saya maksud adalah mengajak manusia kembali pada Allah dengan orisinalitas tiga dogma yakni, Iman, Islam, Ihsan dan menjauhkan dakwahnya dari tudingan atau celaan terhadap Muslim dari sekte apapun. Sebab, seperti inilah dakwah Muhammad khairul basyar. Karena Muhammad tidak pernah menghina sesama ahli la ilaha illa Allah.
Rektor Universitas Al Ahgaff, Prof. Habib Abdullah Baharun kerap berpesan bahwa umat Muslim dari sekte apapun, adalah umat lailaha illa Allah, oleh karena itu interaksi kita dengan mereka juga yang sesuai dengan ajaran la ilaha illa Allah. Jadi kita mesti paham bahwa variatif sekte yang ada dalam Islam itu semua adalah ahli la ilaha illa Allah. Mereka semua mengesakan Allah. Allah membelai mereka dengan belaian Islam. Allah mencintai mereka karena hurmat atau kemulyaan kalimah tauhid ini. Dalam satu kisah diceritakan bahwa Rasul SAW marah ketika salah seorang sahabat membunuh orang kafir yang telah mengucapkan la ilaha illa Allah dalam satu peperangan. "Wahai Rasul, dia mengucapkan la ilaha illa Allah supaya aku tidak membunuhnya," kata sahabat itu. "Apa kamu telah membelah dadanya hingga kau tahu bahwa dia mengucapkan la ilaha illa Allah karena takut dibunuh..???!!!" jawab Rasul berulang kali. Beginilah Rasul SAW. mengajari para sahabat agar mereka juga memahami betapa mulianya kalimat tauhid ini disisi Allah, sehingga mereka tidak boleh sembarangan ketika berinteraksi dengan sesama umat islam, apalagi sampai menuduh mereka kafir hingga membunuhnya.
Fenomena yang terjadi, baik itu di Timur Tengah atau negara kita adalah saling olok antar satu sekte dengan yang lain. Misalnya orang Salafy tidak suka kalau ada orang NU yang mengadakan tahlil lantas mengolok di halaqahnya, dengan mengatakan itu bid'ah, haram, syirik kita harus memberantasnya. Orang NU dalam ceramah-ceramah terkadang juga mengolok Salafy dungu, dangkal, sok pintar. Itu semua akibat fanatisme sekte yang telah membelenggu di otaknya. Dalam hal ini seorang pemikir Islam terkemuka, Hasan Al Banna mengatakan bahwa tak seharusnya kita kini memperdebatkan perbedaan klasik ini karena para ulama dulu sudah berusaha untuk menemukan titik temu dalam masalah khilafiyah (ziarah kubur, tawassul, dll.) ini, namun hasilnya tetap saja terjadi perbedaan di antara mereka, oleh karena itu ada baiknya kita tanggalkan perdebatan klasik ini. Bahkan di negara Somalia, sampai kini, masih terjadi pertumpahan darah gara-gara ada sekte yang suka mengkafir-kafirkan (Jama'ah Takfir), ini yang saya takutkan kalau sampai terjadi di Indonesia . Oleh sebab itu ada baiknya kita juga mengaplikasikan apa yang pernah diucapkan oleh Habib Abu Bakar Al Adny, da'i sekaligus pemikir Islam asal kota Aden, dalam satu lawatannya di Univ. Al Ahgaff, beliau berkata bahwa da'wah, itu yang bermanfaat bagi umat bukan malah memecah belah umat. Menuduh kafir, pertikaian, perdebatan yang berlandaskan hawa nafsu itu adalah dakwah yang memicu perpecahan dan itu yang mesti kita tanggalkan kini.
Sahabat Abu Dzar pernah memanggil Bilal, "Hai si hitam." Rasul pun mendengar dan berkata, "Hai, apakah orang putih itu lebih mulia dari mereka yang hitam. Tidak, tidak ada keutamaan dalam diri seseorang kecuali taqwa." Lantas Abu Dzar sadar dan berkata pada Bilal, "Aku telah mengolokmu dan aku mengaku salah." "Aku telah memaafkanmu," kata Bilal. "Tidak, belum, ini wajahku kutaruh di tanah dan injaklah hingga keluar virus kesombongan dariku," kata Abu Dzar. "Aku telah mengampunimu," kata Bilal. "Tidak demi Allah hatiku takkan tenang hingga kau menaruh kaki di wajahku ini, hingga penyakit ini hilang," kata Abu Dzar. Beginilah Rasul mendidik umat la ilaha illa Allah agar saling menghormati, toleran, tidak menyakiti dan sikap inilah yang mesti kita implementasikan ketika bertemu dengan sesama umat la ilaha Illa Allah, dari sekte apapun. Agar dakwah untuk mengajak umat kembali pada Allah terus langgeng dan tidak mandeg gara-gara disibukkan dengan saling jegal antar sekte.

Memahami Hadis Iftiroqul Ummah
Terdapat banyak redaksi mengenai hadis iftiroqul ummah ini sehingga memicu multitafsir di dalamnya. Hal ini sangatlah lumrah dalam wacana khazanah Islam. Ada baiknya kalau kita mengikuti para yuris Islam yang moderat. Mereka, dari banyaknya redaksi hadis tersebut, menyimpulkan bahwa umat Muhammad itu terbagi menjadi dua: umat yang masuk Islam, (ummatul ijabah) dan umat yang belum masuk Islam (ummatud dakwah). Lha, apabila terjadi perpecahan dari dua golongan tersebut (umat ijabah dan umat dakwah) maka yang diinginkan dari hadis tersebut adalah orientasinya, siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka?, maka jawabanya yang mendeklarasikan keesaan Allahlah yang masuk surga dan yang tidak alias menyekutukan Allah, maka ia masuk neraka.
Dengan memahami hadis ifiroqul ummah seperti para yuris moderat, maka konsekwensinya adalah semua sekte yang ada dalam tubuh Islam akan tetap selamat dan masuk surga. Kita bisa menyayangi para umat la ilaha illa Allah sebagaimana Allah menyayangi mereka. Kita juga bisa menghindarkan umat Islam dari fanatisme dan klaim cuma sektenya saja yang selamat. Sebab kalau tidak demikian, klaim egois itu akan terus berlanjut lantas berimbas pada pertikaian, perpecahan umat, dan pertumpahan darah. Lantas siapa yang akan mengemban estafet dakwah untuk mengislamisasikan orang kafir?. Bahkan DR. Muhammad Sa'id Ramadhan Al Bouthi, ketika ditanya apakah orang Amerika di jauh sana, yang tidak pernah mendapatkan dakwah Islam itu masuk neraka atau surga? Beliau malah menjawab, justru yang saya khawatirkan adalah diri kita yang melupakan dakwah kepada orang kafir di Barat dan lainya, apakah kita akan selamat dari jilatan api neraka?. Oleh sebab itu, memahami hadis ini secara moderat adalah sangat perlu hingga kita akur dan damai dengan saudara semuslim hingga tidak melupakan umat (baik ijabah atau dakwah) untuk kembali pada Allah.
Dakwah moderat inilah yang kini terus diperjuangkan oleh para cendekia Muslim Hadhramaut semisal Habib Umar bin Hafidz, Habib Abu Bakar Al Adny dan Prof.Habib Abdullah bin Muhammad Baharun. Mereka mengajak umat la ilaha illa Allah untuk kembali pada Allah dengan mengajarkan esensi dari inti agama, yaitu Islam, Iman dan Ihsan, tanpa mengajak umat untuk saling tuduh, jegal, menyesatkan yang rawan pertumpahan darah. Dan dakwah model inilah yang tampaknya cocok untuk kita implementasikan di bumi pertiwi yang ditemukan berbagai genre atau sekte islam didalamnya. Allahum waffiqna wa aqim bainana ta'awun 'ala ma yurdhik.

*Penulis adalah mahasiswa Univ. Al Ahgaff tingkat dua, fakultas Syariah dan Hukum.



Selengkapnya....

LURUSKAN PEMAHAMAN YANG MELENCENG

Oleh: Abdullah Ahid*

(Dan di antara manusia itu ada yang berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir." Padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang yang beriman). QS. 02:08.

Kalau paham liberal kian mendarah daging dalam otak generasi penerus Islam, dan berkelanjutan hingga menyumsum bercampur jadi satu dengan pengetahuan luas yang dimiliki oleh mereka yang cukup mempunyai kemampuan unggul dalam memahami syari'at, maka bagaimana nasib masyarakat awam yang tidak mengerti keunikan serta kerahmatan agama yang mulia ini?

Sementara mereka tidak mengerti kewajiban apa yang harus ditempuh, dengan pengetahuan yang sangat minim disertai rasa terkekang oleh nidzam syari' (peraturan Sang Pemilik syari'at).
Masuknya bangsa Kompeni disertai dengan sambutan hangat masyarakat pribumi yang tak sedikitpun memililki kecurigaan bahwa nantinya akan menjadi tuan bagi mereka dan menjadikan mereka jongos yang martabatnya bisa lebih buruk dari pada budak. Maka tak ayal jika anak buah Israel yang sedari dulu memiliki dendam batin terhadap pengikut ajaran agama Allah lebih akan menganggap mereka sebagai hewan yang tak layak dipiara dan diternak. Digiring menuju jurang kesesatan sehingga nantinya akan terjatuh ke dasar jurang kehinaan.
Zaman modern yang serba dipandu dan dikuasai oleh bangsa Yahudi kini semakin memberikan peluang luas bagi kaum yang memiliki keraguan dalam hati, kering akan akhlaq dan nuraninya telah mati, untuk menghujat agamanya dan saudara intern agamanya sendiri. Mereka yang selalu ragu, tak mengindahkan ijtihad dan jasa ulama terdahulu. Bahkan dengan kurang ajarnya berani menentang atau mengkritiki serta mengkaji ulang fatwa-fatwa mereka, diganti dengan usaha yang tiada valid argumennya bilamana diteliti dan dicocokkan dengan realita yang terjadi, sebab kedangkalan ilmu yang mereka miliki. Inilah yang sekarang kian marak di kalangan Muslim KTP yang sebetulnya orang munafik.
Berbagai usaha yang mereka lakukan tak lain adalah membawa visi pemurtadan kaum Muslimin. Entah melalui penularan pemikiran yang bersifat liberal, wawasan yang luas, atau apapun caranya agar bagaimana syari'at ini bisa tenggelam ditangan pemeluk agama itu sendiri. Sebab mereka merasa kewalahan untuk menyebarkan paham dan ajaran mereka. Dan cara ini adalah yang paling praktis dan kondusif. Adu domba memang sebuah program yang ditata dengan cemerlang dan efisien meraih kemenangan. Sementara momok yang paling ditakuti oleh semua golongan adalah juga pengkhianatan bangsa sendiri. Dan apabila generasi penerus ulama', cendekiawan Muslim yang semestinya membela dan mempertahankan Islam itu telah berpaling dari kewajibannya dan bisa dikatakan munafik nantinya, maka sedikit demi sedikit agama ini akan terkikis oleh ulah mereka.
Artikel ilmu teoritis yang disajikan oleh Ulil Abshar cukup indah dan menawan. Generalisasi perkara yang spesifik merupakan hujjah yang begitu mematikan, karena bisa jadi disertai unsur penipuan yang tak tampak dan pasti diterima dikalangan publik. Mengatakan bahwa dini hari para intelektual Muslim telah terpikat pemikiran filosof Barat, menyamakan potensi yang dimiliki ulama' salaf yang berpegang teguh pada Al Qur'an dan As Sunnah dengan ilmuwan non-Muslim tanpa bukti yang jelas. Apalagi terdapat tambahan kata-kata intelektual Muslim yang berlatar belakang NU kerap merujuk permasalahan filsafat pada ahlinya yang terdiri dari ilmuwan modern bangsa Barat. Dan apakah benar demikian? Namun, jikalau lebih kita teliti maka tampaklah kebodohan yang menyelimuti mereka yang berani menetralkan golongan dan mengolok-olok saudara seagamanya sendiri yang sudah tentu dibela dan dijaga oleh-Nya. Karena satu contoh tidak mungkin bisa dimasukkan dalam komunitas, artinya barangkali orang seperti dialah yang selalu mengandalkan dan memuja-muja ilmuwan non-Muslim. Dan imbas perlakuan itu ditujukan pada Muslimin yang muslihin dan muhsinin. Ini namanya ta'mim al-khos ghoiru muthobiq lil waqi'.
Sedangkan agama Islam adalah agama rahmah yang penuh dengan pertimbangan. Prakteknya bertolak belakang dengan agama lain. Ia berjalan gradual secara kontinyu sehingga para pemeluknya merasakan ketentraman yang luar biasa, yaitu orang-orang yang pasrah dan tunduk diri pada Allah dan menyerahkan segala urusan pada-Nya. Sebagai contoh kecil kerahmatan itu adalah perbudakan yang terjadi di masa jahiliah, Islam datang dengan menepisnya setitik demi setitik, tidak langsung menekankan pengharaman, sehingga dengan cara minimalisir ini ia digubris dan dihormati mereka yang hatinya terbuka. Tidakkah hal ini menjadi sebuah contoh bagi kita umat Muslim untuk berfikir? Sementara sebelum kedatangan Islam corak kehidupan yang mewarnai bangsa Yahudi dan Nasrani sangatlah tidak berperikemanusiaan. Jadi, mana mungkin pemikiran mereka disamakan? Toh berangkat dari sumber yang bebeda.
Permasalahan tulisan Ulil lagi adalah kalau dikritik mengapa struktural forum-forum yang ada di bawah kekuasaan NU sekarang seakan tidak memperdulikan lagi ilmu teori? Jawabannya, bukan berarti tidak menghiraukan. Tetapi barangkali hal ini yang hendak diterapkan mereka, yakni menyuguhkan kepada masyarakat awam hukum-hukum agama yang tak mungkin bisa mereka raih dengan berijtihad karena minimnya pengetahuan juga sibuknya pekerjaan yang menumpuk, sehingga dengan instant mereka dapat melahap dan mengamalkannya dengan praktis. Lalu, apakah hal itu tidak mematikan pikiran mereka yang mestinya wajib mengetahui sumber dan asal-usul perkara itu ditentukan? Kita logikakan perjalanan seorang mencari ilmu. Berangkat dari ilmu tauhid, ketuhanan, mengetahui Rasul, dan lain sebagainya, disusul dengan ilmu alat dalam bahasa Arab, karena pembawa agama Allah berasal dari Arab, lanjut dengan ilmu Fiqih tentang halal haram dalam Islam, barulah mencari sumber asal hukum tersebut itu ditentukan. Lha, kalau orang sudah tidak memiliki kemampuan untuk memikirkan asal muasal sebuah perkara ditentuikan, bukankah lebih baik ia mengetahui perkara tersebut. Dan kalau bukan karena perkara itu diketahui terlebih dahulu, apakah ia bisa berfikir menggali sumbernya? Permasalahan apa yang bisa ia bahas sedang tema saja tidak mengetahui. Contoh kecil, kewajiban shalat. Jikalau orang telah masuk Islam, apakah ia wajib untuk shalat atau mencari referensi yang mendetail dan peristiwa terjadinya kewajiban itu? Kalau yang kedua diterapkan maka Islam adalah ad diin al masyaqah.
Sebagai umat Rasul yang diutus untuk menyempurnakan akhlaq seharusnya kita intropeksi diri. Apakah kita sudah terhitung orang pandai dengan membodohkan program orang lain yang status keilmuannya di atas kita. Mereka lebih banyak makan garam, dan mempunyai pertimbangan yang lebih adil dan kuat sebab pengalaman yang mengungguli kita.
Menjadi seorang ulama' itu tidaklah fardlu 'ain, dan pemahaman mencari akar yang terlalu dalam itu saya kira adalah hanya keinginan musuh Islam yang memfilsafati perkara sehingga bisa dijadikan alasan untuk berpaling darinya. Sebab wadah pencetak generasi penerus yang nantinya menumbuhkan para cendekiawan Muslim dan alim, sholeh serta revolusioner tidaklah kurang. Para ulama' telah berlomba-lomba menjadikan muda-mudi Muslim bermanfaat di kemudian hari dengan sarana pendidikan yang dikondisikan dengan zaman dan tetap berpegang teguh pada Al Qur'an. Lagipula Allah sudah adil, kalau semua orang dicekoki pemikiran sepertinya dan mereka semua mempunyai kapasitas kecerdasan yang sama rata, siapa yang akan menjadi pimpinan bagi mereka, yang mengajak ke agama Allah? Lagipula kalau setiap orang hanya mencari akar suatu pesoalan secara mendetail, ia akan lupa dengan tujuannya, yaitu mengetahui dan mengamalkan kewajiban dari undang-undang hukum atau ending permasalahan yang ia tekuni tersebut. Jadi, bukan berarti jajaran kepengurusan NU mengabaikan ilmu Ushul.
Memang benar jika teori tak mampu pisah dari praktek, karena praktek tanpa teori hasilnya nol. Begitu juga sebaliknya. Tapi untuk merealisasikan perkara tersebut apakah harus mengambil sampel dari kejadian-kejadian yang kurang ia pahami tujuan dan akibatnya dan diolah menjadi terlihat buruk di mata umum. Padahal obyeknya juga ikhwanuhu fiddin. Tidak ingatkah kalau sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah. Tapi Ulil seakan mendoktrin keunggulan teori dan lupa atas kejadian masa lampau untuk dijadikan pelajaran, yaitu ajaran Siti Jenar tentang tauhid yang kurang bisa dipahami oleh khalayak umum dan bisa memurtadkan mereka yang bukan sederajat dengannya, itulah segi negatif inti artikel karyanya. Dan bila orang yang dangkal pikirannya dan lemah imannya, pasti akan mudah terpengaruhi sedikit demi sedikit untuk berfikir sepertinya dan ujungnya tiada lagi kepercayaan yang tertancap dalam hatinya untuk i'tikad bahwa agama yang dipeluk adalah yang paling benar.
Kembali mengenai persesuaian pendapat antara ulama' Islam dengan pemikir Yunani dan Barat itu sangat tidak mengenakkan untuk dikombinasikan, karena berangkat dari ajaran yang berbeda. Lagi pula bukankah telah jelas di mata kaum Muslimin bahwa bangsa Barat dengan kejam merebut ilmu pengetahuan yang diciptakan ahli ilmu Timur Tengah. Mereka mengadopsinya dan mengatakan bahwa hal itu adalah darinya. Sebagai seorang Muslim, seharusnya kita mendalami agama tanpa menganggapnya sama rata, karena yang paling benar adalah memang Islam. Ingin bukti kongkret? Perhatikan saja seorang muallaf adalah yang mendapatkan petunjuk dan terbuka hatinya, sedangkan yang murtad adalah karena faktor ekonomi, sosial atau konflik lain yang sama sekali tak berlandaskan kesadaran, melainkan melencengnya pikiran yang dipaksa-paksakan.
Selayaknya kita bangga mempunyai ulama' yang selalu andil dalam berbagai masalah kehidupan. Mencurahkan tenaga dan pikirannya, memecahkan segala bentuk problematika. Bukannya menjunjung pembesar agama lain dan mencampur-adukkan pemikiran mereka yang tidak sama serta menimbulkan kerancauan dan kesulitan berfikir dalam benak orang yang tidak begitu memahami aqidah dan syari'ah.
Demikianlah cara berpikir kaum liberal. Ulil Abshor telah mengelabuhi pembaca artikelnya yang begitu mempesona dan berbobot dan sangat tinggi nilainya. Namun ia tidak sadar telah menampakkan kecerobohan dirinya dengan tergesa-gesa menyajikan pendapat yang terkesan memprioritaskan teori dan mengesampingkan praktek. Meskipun di sebagian katanya ia tulis bahwa teori harus imbang dengan praktek. Bukankah hal ini seperti orang yang ingin mengetahui pembentukan undang-undang untuk alasan agar bisa mencari kelemahannya dan menghindar darinya? Tak cocok dengan kritiknya yang memojokkan terhadap Nahdlatul Ulama' yang belum ia ketahui seluk-beluk dan tata-cara mereka memahami agama. Satu bentuk kelemahan prioritas teori Bean.

*Penulis adalah mahasiswa Universitas Al Ahgaff tingkat 1, fakultas Syari'ah dan Hukum.


Selengkapnya....

Semaumu

Oleh: H2O Wangi*

Dalam hatiku…
Muncul sesuatu tabu
Dalam pikiranku…
Tiada kebebasan yang membelenggu


Dalam jalanku…
Aku tak mau ragu
Dalam hidupku…
Aku terbebani rasa malu

Dalam cintaku…
Tak kutemukan hati yang menentu
Dalam pertemananku…
Semuanya KURANG AJAR padaku

Dalam kuliahku…
Tiada sesuatu yang baru
Dalam kelasku…
Tidur bukanlah sesuatu yang pilu

Dalam keseharianku…
Mata-mata selalu menemaniku
Dalam keteledoranku…
Si mata-mata menjadi si Abu J.

Dalam sunyiku…
Kau selalu membuatku terganggu
Dalam tawaku…
Lirikan sinis membanjiriku

Dalam duniaku…
Tak boleh ada yang mengganggu
Dalam bayangku…
Aku bukanlah kamu, wahai pembenciku…!

Dalam kesalahanku…
Janganlah kaubuat tambah malu
Dalam kebebasanku…
Jangan coba-coba memasuki hidupku

*Mahasiswa Univ. Al Ahgaff tingkat satu

Selengkapnya....

LURUSKAN PEMAHAMAN YANG MELENCENG

Oleh: Abdullah Ahid*

(Dan di antara manusia itu ada yang berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir." Padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang yang beriman). QS. 02:08.

Kalau paham liberal kian mendarah daging dalam otak generasi penerus Islam, dan berkelanjutan hingga menyumsum bercampur jadi satu dengan pengetahuan luas yang dimiliki oleh mereka yang cukup mempunyai kemampuan unggul dalam memahami syari'at, maka bagaimana nasib masyarakat awam yang tidak mengerti keunikan serta kerahmatan agama yang mulia ini?


Sementara mereka tidak mengerti kewajiban apa yang harus ditempuh, dengan pengetahuan yang sangat minim disertai rasa terkekang oleh nidzam syari' (peraturan Sang Pemilik syari'at).
Masuknya bangsa Kompeni disertai dengan sambutan hangat masyarakat pribumi yang tak sedikitpun memililki kecurigaan bahwa nantinya akan menjadi tuan bagi mereka dan menjadikan mereka jongos yang martabatnya bisa lebih buruk dari pada budak. Maka tak ayal jika anak buah Israel yang sedari dulu memiliki dendam batin terhadap pengikut ajaran agama Allah lebih akan menganggap mereka sebagai hewan yang tak layak dipiara dan diternak. Digiring menuju jurang kesesatan sehingga nantinya akan terjatuh ke dasar jurang kehinaan.
Zaman modern yang serba dipandu dan dikuasai oleh bangsa Yahudi kini semakin memberikan peluang luas bagi kaum yang memiliki keraguan dalam hati, kering akan akhlaq dan nuraninya telah mati, untuk menghujat agamanya dan saudara intern agamanya sendiri. Mereka yang selalu ragu, tak mengindahkan ijtihad dan jasa ulama terdahulu. Bahkan dengan kurang ajarnya berani menentang atau mengkritiki serta mengkaji ulang fatwa-fatwa mereka, diganti dengan usaha yang tiada valid argumennya bilamana diteliti dan dicocokkan dengan realita yang terjadi, sebab kedangkalan ilmu yang mereka miliki. Inilah yang sekarang kian marak di kalangan Muslim KTP yang sebetulnya orang munafik.
Berbagai usaha yang mereka lakukan tak lain adalah membawa visi pemurtadan kaum Muslimin. Entah melalui penularan pemikiran yang bersifat liberal, wawasan yang luas, atau apapun caranya agar bagaimana syari'at ini bisa tenggelam ditangan pemeluk agama itu sendiri. Sebab mereka merasa kewalahan untuk menyebarkan paham dan ajaran mereka. Dan cara ini adalah yang paling praktis dan kondusif. Adu domba memang sebuah program yang ditata dengan cemerlang dan efisien meraih kemenangan. Sementara momok yang paling ditakuti oleh semua golongan adalah juga pengkhianatan bangsa sendiri. Dan apabila generasi penerus ulama', cendekiawan Muslim yang semestinya membela dan mempertahankan Islam itu telah berpaling dari kewajibannya dan bisa dikatakan munafik nantinya, maka sedikit demi sedikit agama ini akan terkikis oleh ulah mereka.
Artikel ilmu teoritis yang disajikan oleh Ulil Abshar cukup indah dan menawan. Generalisasi perkara yang spesifik merupakan hujjah yang begitu mematikan, karena bisa jadi disertai unsur penipuan yang tak tampak dan pasti diterima dikalangan publik. Mengatakan bahwa dini hari para intelektual Muslim telah terpikat pemikiran filosof Barat, menyamakan potensi yang dimiliki ulama' salaf yang berpegang teguh pada Al Qur'an dan As Sunnah dengan ilmuwan non-Muslim tanpa bukti yang jelas. Apalagi terdapat tambahan kata-kata intelektual Muslim yang berlatar belakang NU kerap merujuk permasalahan filsafat pada ahlinya yang terdiri dari ilmuwan modern bangsa Barat. Dan apakah benar demikian? Namun, jikalau lebih kita teliti maka tampaklah kebodohan yang menyelimuti mereka yang berani menetralkan golongan dan mengolok-olok saudara seagamanya sendiri yang sudah tentu dibela dan dijaga oleh-Nya. Karena satu contoh tidak mungkin bisa dimasukkan dalam komunitas, artinya barangkali orang seperti dialah yang selalu mengandalkan dan memuja-muja ilmuwan non-Muslim. Dan imbas perlakuan itu ditujukan pada Muslimin yang muslihin dan muhsinin. Ini namanya ta'mim al-khos ghoiru muthobiq lil waqi'.
Sedangkan agama Islam adalah agama rahmah yang penuh dengan pertimbangan. Prakteknya bertolak belakang dengan agama lain. Ia berjalan gradual secara kontinyu sehingga para pemeluknya merasakan ketentraman yang luar biasa, yaitu orang-orang yang pasrah dan tunduk diri pada Allah dan menyerahkan segala urusan pada-Nya. Sebagai contoh kecil kerahmatan itu adalah perbudakan yang terjadi di masa jahiliah, Islam datang dengan menepisnya setitik demi setitik, tidak langsung menekankan pengharaman, sehingga dengan cara minimalisir ini ia digubris dan dihormati mereka yang hatinya terbuka. Tidakkah hal ini menjadi sebuah contoh bagi kita umat Muslim untuk berfikir? Sementara sebelum kedatangan Islam corak kehidupan yang mewarnai bangsa Yahudi dan Nasrani sangatlah tidak berperikemanusiaan. Jadi, mana mungkin pemikiran mereka disamakan? Toh berangkat dari sumber yang bebeda.
Permasalahan tulisan Ulil lagi adalah kalau dikritik mengapa struktural forum-forum yang ada di bawah kekuasaan NU sekarang seakan tidak memperdulikan lagi ilmu teori? Jawabannya, bukan berarti tidak menghiraukan. Tetapi barangkali hal ini yang hendak diterapkan mereka, yakni menyuguhkan kepada masyarakat awam hukum-hukum agama yang tak mungkin bisa mereka raih dengan berijtihad karena minimnya pengetahuan juga sibuknya pekerjaan yang menumpuk, sehingga dengan instant mereka dapat melahap dan mengamalkannya dengan praktis. Lalu, apakah hal itu tidak mematikan pikiran mereka yang mestinya wajib mengetahui sumber dan asal-usul perkara itu ditentukan? Kita logikakan perjalanan seorang mencari ilmu. Berangkat dari ilmu tauhid, ketuhanan, mengetahui Rasul, dan lain sebagainya, disusul dengan ilmu alat dalam bahasa Arab, karena pembawa agama Allah berasal dari Arab, lanjut dengan ilmu Fiqih tentang halal haram dalam Islam, barulah mencari sumber asal hukum tersebut itu ditentukan. Lha, kalau orang sudah tidak memiliki kemampuan untuk memikirkan asal muasal sebuah perkara ditentuikan, bukankah lebih baik ia mengetahui perkara tersebut. Dan kalau bukan karena perkara itu diketahui terlebih dahulu, apakah ia bisa berfikir menggali sumbernya? Permasalahan apa yang bisa ia bahas sedang tema saja tidak mengetahui. Contoh kecil, kewajiban shalat. Jikalau orang telah masuk Islam, apakah ia wajib untuk shalat atau mencari referensi yang mendetail dan peristiwa terjadinya kewajiban itu? Kalau yang kedua diterapkan maka Islam adalah ad diin al masyaqah.
Sebagai umat Rasul yang diutus untuk menyempurnakan akhlaq seharusnya kita intropeksi diri. Apakah kita sudah terhitung orang pandai dengan membodohkan program orang lain yang status keilmuannya di atas kita. Mereka lebih banyak makan garam, dan mempunyai pertimbangan yang lebih adil dan kuat sebab pengalaman yang mengungguli kita.
Menjadi seorang ulama' itu tidaklah fardlu 'ain, dan pemahaman mencari akar yang terlalu dalam itu saya kira adalah hanya keinginan musuh Islam yang memfilsafati perkara sehingga bisa dijadikan alasan untuk berpaling darinya. Sebab wadah pencetak generasi penerus yang nantinya menumbuhkan para cendekiawan Muslim dan alim, sholeh serta revolusioner tidaklah kurang. Para ulama' telah berlomba-lomba menjadikan muda-mudi Muslim bermanfaat di kemudian hari dengan sarana pendidikan yang dikondisikan dengan zaman dan tetap berpegang teguh pada Al Qur'an. Lagipula Allah sudah adil, kalau semua orang dicekoki pemikiran sepertinya dan mereka semua mempunyai kapasitas kecerdasan yang sama rata, siapa yang akan menjadi pimpinan bagi mereka, yang mengajak ke agama Allah? Lagipula kalau setiap orang hanya mencari akar suatu pesoalan secara mendetail, ia akan lupa dengan tujuannya, yaitu mengetahui dan mengamalkan kewajiban dari undang-undang hukum atau ending permasalahan yang ia tekuni tersebut. Jadi, bukan berarti jajaran kepengurusan NU mengabaikan ilmu Ushul.
Memang benar jika teori tak mampu pisah dari praktek, karena praktek tanpa teori hasilnya nol. Begitu juga sebaliknya. Tapi untuk merealisasikan perkara tersebut apakah harus mengambil sampel dari kejadian-kejadian yang kurang ia pahami tujuan dan akibatnya dan diolah menjadi terlihat buruk di mata umum. Padahal obyeknya juga ikhwanuhu fiddin. Tidak ingatkah kalau sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah. Tapi Ulil seakan mendoktrin keunggulan teori dan lupa atas kejadian masa lampau untuk dijadikan pelajaran, yaitu ajaran Siti Jenar tentang tauhid yang kurang bisa dipahami oleh khalayak umum dan bisa memurtadkan mereka yang bukan sederajat dengannya, itulah segi negatif inti artikel karyanya. Dan bila orang yang dangkal pikirannya dan lemah imannya, pasti akan mudah terpengaruhi sedikit demi sedikit untuk berfikir sepertinya dan ujungnya tiada lagi kepercayaan yang tertancap dalam hatinya untuk i'tikad bahwa agama yang dipeluk adalah yang paling benar.
Kembali mengenai persesuaian pendapat antara ulama' Islam dengan pemikir Yunani dan Barat itu sangat tidak mengenakkan untuk dikombinasikan, karena berangkat dari ajaran yang berbeda. Lagi pula bukankah telah jelas di mata kaum Muslimin bahwa bangsa Barat dengan kejam merebut ilmu pengetahuan yang diciptakan ahli ilmu Timur Tengah. Mereka mengadopsinya dan mengatakan bahwa hal itu adalah darinya. Sebagai seorang Muslim, seharusnya kita mendalami agama tanpa menganggapnya sama rata, karena yang paling benar adalah memang Islam. Ingin bukti kongkret? Perhatikan saja seorang muallaf adalah yang mendapatkan petunjuk dan terbuka hatinya, sedangkan yang murtad adalah karena faktor ekonomi, sosial atau konflik lain yang sama sekali tak berlandaskan kesadaran, melainkan melencengnya pikiran yang dipaksa-paksakan.
Selayaknya kita bangga mempunyai ulama' yang selalu andil dalam berbagai masalah kehidupan. Mencurahkan tenaga dan pikirannya, memecahkan segala bentuk problematika. Bukannya menjunjung pembesar agama lain dan mencampur-adukkan pemikiran mereka yang tidak sama serta menimbulkan kerancauan dan kesulitan berfikir dalam benak orang yang tidak begitu memahami aqidah dan syari'ah.
Demikianlah cara berpikir kaum liberal. Ulil Abshor telah mengelabuhi pembaca artikelnya yang begitu mempesona dan berbobot dan sangat tinggi nilainya. Namun ia tidak sadar telah menampakkan kecerobohan dirinya dengan tergesa-gesa menyajikan pendapat yang terkesan memprioritaskan teori dan mengesampingkan praktek. Meskipun di sebagian katanya ia tulis bahwa teori harus imbang dengan praktek. Bukankah hal ini seperti orang yang ingin mengetahui pembentukan undang-undang untuk alasan agar bisa mencari kelemahannya dan menghindar darinya? Tak cocok dengan kritiknya yang memojokkan terhadap Nahdlatul Ulama' yang belum ia ketahui seluk-beluk dan tata-cara mereka memahami agama. Satu bentuk kelemahan prioritas teori Bean.

*Penulis adalah mahasiswa Universitas Al Ahgaff tingkat 1, fakultas Syari'ah dan Hukum.

Selengkapnya....

ABDURRAHMAN AD DIBA`I




Sang Penyair yang Rendah Hati
(866 H. – 944 H.)
Oleh: Abu Yahya*

يا بدر تم حاز كل كمال # ماذا يعبر عن علاك مقالي
Wahai purnama yang memiliki segala kesempurnaan
Dengan ucapan apa bisa kuungkapkan kemuliaanmu

Maqbarah Syeikh Isma'il Jabarti (Zabid) yang di dalamnya terdapat maqam Abdurrahman Ad Diba'i

Pelantun syair pujian atas Nabi Muhammad SAW. yang lebih dikenal dengan Maulid Diba` ini, bernama lengkap Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar Ad Diba`i Asy Syaibaniy, beliau juga dikenal dengan julukan Ibn Diba`. Sebenarnya kata "Diba`" adalah julukan (laqob) kakeknya yang bernama Ali bin Yusuf Diba` yang dalam bahasa Sudan berarti putih. Dalam kitabnya yang berjudul Bughyatul Mustafid, beliau menuliskan di bagaian akhir kitab tersebut tentang sekilas riwayat hidupnya. Disebutkan bahwa beliau dilahirkan di kota Zabid (salah satu kota di Yaman utara) pada sore hari Kamis, 4 Muharram, 866 H.

Sekilas Geografis Zabid
Zabid adalah salah satu kota tua yang terletak di Yaman utara. Sekarang kota Zabid termasuk dalam kawasan propinsi Hudaidah. Letak geografisnya berada di tengah-tengah lembah Zabid, yang berjarak 40 kilometer dari laut merah. Dahulu kota Zabid dikenal juga dengan nama "Hushoib".
Zabid merupakan salah satu kota pusat keilmuan di Yaman, di mana sejarah mencatat banyak ulama-ulama dari berbagai penjuru belahan dunia yang datang untuk menuntut ilmu atau sekedar mencari sanad hadis di kota ini. Bahkan tak jarang dari mereka yang akhirnya enggan kembali ke daerah asalnya dan memilih untuk tinggal di kota Zabid sampai akhir hayatnya.
Kota ini sudah dikenal sejak masa hidupnya Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada tahun ke-8 Hijriyah. Di mana saat itu datanglah rombongan suku Asy`ariah (di antaranya adalah Abu Musa Al Asy`ari) yang berasal dari Zabid ke Madinah Al Munawwaroh untuk memeluk agama Islam dan mempelajari ajaran-ajarannya. Karena begitu senangnya atas kedatangan mereka, Nabi Muhammad SAW. berdoa memohon semoga Allah SWT. memberkahi kota Zabid dan Nabi mengulangi doanya sampai tiga kali (HR. Al Baihaqi). Dan berkat barokah doa Nabi, hingga saat ini, nuansa tradisi keilmuan di Zabid masih bisa dirasakan. Hal ini karena generasi ulama di kota ini sangat gigih menjaga tradisi khazanah keilmuan Islam.
Di Zabid terdapat masjid Asya`ir yang dibangun sejak tahun ke-8 Hijriyah, masjid yang dibangun oleh Abu Musa Al Asy`ari ini merupakan salah satu dari ketiga masjid yang dibangun oleh sahabat Nabi di Negeri Saba' (Yaman).

Masa Kecil Ibn Diba`
Pengarang Maulid Diba`i ini lahir ketika ayahnya sedang bepergian, dan sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Beliau diasuh oleh kakek dari ibunya yang bernama Syeikh Syarafuddin bin Muhammad Mubariz yang juga seorang ulama besar yang tersohor di kota Zabid saat itu. Meskipun demikian, ketiadaan sosok ayah tidak menjadi penghalang bagi Ibn Diba` untuk menuntut ilmu pada ulama-ulama besar Zabid.
Semenjak kecil, Ibn Diba` sudah sangat giat dalam menimba ilmu kepada para ulama. Beliau belajar membaca Al Quran dibawah bimbingan Syeikh Nuruddin Ali bin Abu Bakar lalu berpindah kepada mufti Zabid Syeikh Jamaluddin Muhammad Atthoyyib yang masih terhitung pamannya sendiri. Setelah gurunya melihat bakat kecerdasan istimewa yang dimiliki Ibn Diba`, maka sang Mufti menyuruhnya untuk membaca Al Quran dari awal hingga akhir. Berkat kecerdasan dan ketekunan, beliau sudah bisa menghafal Al Quran saat masih berusia sepuluh tahun.
Tak lama setelah beliau berhasil menghatamkan Al Quran, Ibn Diba' mendengar berita duka bahwa ayahnya telah meninggal dunia di salah satu daerah di daratan India. Beliau mendapatkan harta warisan sebanyak 8 Dinar. Meninggalnya ayah beliau tak memadamkan motivasi Ibn Diba` dalam menuntut ilmu, malah sebaliknya beliau makin semangat. Setelah peristiwa itu, beliau memutuskan untuk belajar ilmu Qiroat dengan mengaji Nadzom (bait) Syatibiyah dan juga mempelajari ilmu Bahasa (gramatika), Matematika, Faroidl, Fikih, dengan masih di bawah bimbingan pamannya. Atas arahan pamannya, beliau disuruh untuk mengaji kitab Zubad (nadlom Fiqh madzhab Syafi`i) kepada Syeikh Umar bin Muhammad Al Fata Al Asy`ari.

Ibn Diba' Menimba llmu
Kemudian setelah menghatamkan kitab Zubad, dengan bermodal uang harta warisan yang didapat dari ayahnya, Ibn Diba` menempuh perjalanan jauh menuju tanah Haram Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Makkah, beliau disambut dengan berita duka bahwa kakeknya meninggal dunia. Sepeninggal kakeknya, Ibn Diba` tinggal bersama pamannya sambil tetap mengkaji beberapa ilmu di bawah bimbingan pamannya.
Pada tahun 885 H. beliau berangkat ke Makkah lagi untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya. Sepulang dari Makkah, Ibn Diba` kembali lagi ke Zabid. Beliau mengkaji ilmu Hadis dengan membaca Shohih Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Al Muwattho` di bawah bimbingan Syeikh Zainuddin Ahmad bin Ahmad Asy Syarjiy. Di tengah-tengah sibuknya belajar Hadis, Ibn Diba' menyempatkan diri untuk mengarang kitab Ghoyatul Mathlub yang membahas tentang kiat-kiat bagi umat Muslim agar mendapat ampunan dari Allah SWT. Tak puas dengan hanya belajar Hadis, Ibn Diba` lalu belajar Fikih dengan membaca kitab Minhajuttholibin dan Haawi Shoghir kepada Syeikh Jamaluddin bin Ahmad bin Jaghman dan membaca kitab-kitab hadis kepada Syeikh Burhanuddin bin Jaghman.
Pada tahun 896 H. beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang ketiga kalinya. Beliau berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. di Madinah. Setelah itu kembali lagi ke Makkah untuk menuntut ilmu Hadis kepada para ulama tanah Haram, di antara gurunya Syeikh Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman Assyakhowi, seorang ulama Hadis yang tersohor kala itu.
Sepulang dari Makkah beliau mengarang kitab Kasyfu Al Kirbah dan Bughyat Al Mustafid. Karena kehebatan karangannya, beliau mendapat pujian dari Sultan Dzofir `Amir bin Abdul Wahab, dan memintanya untuk hadir ke istananya. Sulthan Dzofir lalu memberikan usulan untuk menambal kekurangan-kekurangan yang ada di kitabnya. Sebelum pulang ke Zabid beliau diberi hadiah sebuah rumah dan sepetak kebun kurma di kota Zabid. Dan Sultan tadi memintanya untuk mengajar ilmu Hadis di masjid Jami` Zabid.

Kebiasaan dan Karya-karya Ibn Diba'
Beliau adalah salah seorang ulama ahli Hadis yang terkemuka pada abad ke-9 H. kehebatannya dalam bidang Hadis telah diakui oleh para ulama, sehingga banyak yang datang kepadanya untuk meminta sanad Hadis dan mendalami ilmu Hadis. Meskipun demikian, Hal itu tak membuatnya berbesar hati, tapi sebaliknya dia makin tawaddlu` (rendah hati).
Ibn Diba' mempunyai kebiasaan untuk membaca surat Al Fatihah dan menganjurkan kepada murid-murid dan orang sekitarnya untuk sering membaca surat Al Fatihah. Sehingga setiap orang yang datang menemui beliau harus membaca Fatihah sebelum mereka pulang. Hal ini tidak lain karena beliau pernah mendengar salah seorang gurunya pernah bermimpi, bahwa hari kiamat telah datang lalu dia mendengar suara, “ Wahai orang Yaman masuklah ke surga Allah.” Lalu orang-orang bertanya, “Kenapa orang-orang Yaman bisa masuk surga ?” Kemudian dijawab, "karena mereka sering membaca surat Al Fatihah".
Ibn Diba` termasuk ulama yang produktif dalam menulis. Hal ini terbukti beliau mempunyai banyak karangan baik di bidang Hadis ataupun Sejarah. Karyanya yang paling dikenal adalah syair-syair sanjungan (madah) atas Nabi Muhammad SAW. yang terkenal dengan sebutan Maulid Diba`i, Meskipun ada yang menisbatkan Maulid ini kepada Ibn Jauzi, hanya saja pendapat ini sangat lemah.
Di antara buah karyanya yang lain: Qurrotul `Uyun yang membahas tentang seputar Yaman, kitab Mi`roj, Taisiirul Usul, Bughyatul Mustafid dan beberapa bait syair. Beliau mengabdikan dirinya hinga akhir hayatnya sebagai pengajar dan pengarang kitab. Ibn Diba'i wafat di kota Zabid pada pagi hari Jumat, tanggal 26 Rajab, 944 H.

*mahasiswa univ. Al Alhgaff tingkat dua
















Selengkapnya....