Sang Pendusta



Kenapa kau masih disana
Berlagak dengan seragam kantor itu

Kenapa kau masih disana
Sok gagah dengan jabatan itu

Kalau engkau tau tanggung jawab
Takkan pernah kau dustai mereka

Mereka hanyalah rakyat jelata
Yang mengharap suara darimu

Tapi kau hanya bungkam seribu bahasa
Mana tanggung jawabmu?

Mana belas kasihan buat mereka?
Mereka hanya menginginkan haknya

Kau sang pendusta
Mesti tau penderitaan mereka
Tapi kau menutup mata

Tak sedikitpun perhatian buat mereka
Mereka yang jelata
Hidup seadanya
Matipun mereka rela
Karma tiada lagi yang mereka punya

Tapi kau hanya menumpuk harta
Sikat sini, sikat sana

Dimanakah keadilan
Apakah ini permainan dunia?
Ataukah hanya fatamorgana

By: Pisces boy.




































Selengkapnya....

ETIKA BERTEMAN

Oleh: Sarianto*

Pertama: membantu kebutuhan teman, dalam hal ini ada beberapa tingkatan; yang paling rendah yaitu membantunya dengan senang hati ketika diminta, tingkatan selanjutnya memenuhi kebutuhannya tanpa harus dipinnta dan yang paling tinggi tingkatannya yaitu mendahulukan kebutuhan teman daripada kebutuhan kita sendiri.


Kedua: mulut kita terkadang berkata-kata dan terkadang diam.
Adapun yang dimaksud dengan diam disini yaitu diam dari membicarakan aib teman, baik ketika didepan kita maupun tidak di depan kita. Selanjutnya diam dari menanyakan sesuatu yang tidak dia sukai dan jangan bertanya ketika bertemu dengannya; Mau kemana? Karena terkadang teman kita tidak mau ada orang lain tahu tujuan dia pergi, menyimpan rahasianya, jangan mencela keluarga dan orang-orang yang dicintainya dan jangan menyampaikan celaan orang lain kepadanya.

Ketiga: sebaiknya kita diam dari sesuatu yang tidak dia sukai, kecuali ada kewajiban bagi kita untuk berbicara seperti dalam hal amar ma'ruf nahi mungkar dan tidak ada celah untuk diam, karena pada hakekatnya hal ini adalah perbuatan baik.

Dan ketahuilah, jika kamu mencari teman yang bersih dari aib, maka kamu tidak akan pernah menemukannya, tapi orang yang kebaikannya lebih banyak dari kejelekannya, maka itulah yang seharusnya kita cari , sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mubarok: Orang mukmin memaafkan sedang orang munafik mencari kesalahan.

Sebaiknya jangan pernah berburuk sangka (su'uddzan), sebagaimana sabda Rosul Saw: takutlah kamu dengan prasangka, karena prasangkaitu adalah perkataan yang paling bohong.

Dan ketahuilah bahwa iman seseorang tidak akan sempurna sampai mencintaisaudaranya seperti mencintai dirinya sendiri dan kamu menginkan apa yang tidak kamu inginkan terhadap temanmu.

Keempat: lisan kita harus bicara sebagaimana harus diam dari sesuatu yang tidak dia sukai.lisan kita harus bicara dalam hal-hal yang dia senangi, karena orang yang menerima dengan kediaman, maka dia seperti berteman dengan ahli kubur dan gunanya teman adalah agar kita mendapatkan faedah, selain itu diam dapat diartikan menahan dari menyakiti, maka sebaiknya kita menyayangi teman kita dengan lisan kita dan merasa kesepian ketika dia tidak ada, menanyakan masalah yang datang kepadanya dan memperlihatkan rasa senang dengan apa yang menjadikannya senang, sebagaimana yang hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi: ketika salah satu dari kalian suka dengan saudaranya maka katakanlah kepadanya.

Sebagian dari adab juga memanggilnya dengan panggilan yang dia sukai, Umar bin Khattab Ra berkata: Tiga perkara membersihkan kasih sayangmu terhadap saudaramu, salam kepadanya ketika kamu bertemu dengannya, memberi tempat duduk di majlis dan memberi panggilan yang paling dia sukai.

Sebagian dari adab juga menasehati dan mengajari, tidaklah kebutuhan saudaramu kepada ilmu lebih sedikit daripada kebutuhannya kepada arta, jika kamu kaya dengan ilmu, maka berikanlah ilmu itu kepadanya. Sebaiknya nasehatmu kepadanya tidak terang-terangan, perbedaan antara mencela dan menasehati adalah terang-terangan atau tidak. Memaafkan dari kesalahannya, jika kesalahannya dalam masalah agama, maka nasehatilah secara lembut selagi bisa.

Kelima: mendoakan yang baik ketika dia masih hidup maupun ketika dia sudah mati dengan semua yang kamu doakan untuk dirimu sendiri, dalam Shahih Muslim dari Abu Darda' Ra. Bahwasanya Nabi Saw bersabda: do'a seorang Muslim terhadap saudaranya tanpa diketahui, dikabulkan, diatas kepalanya ada malaikat yaang ditugaskan ketika mendoakan temannya dengan kebaikan, berkata malaikatyang ditugaskan tersebut; kabulkanlah do'anya dan bagimu seoerti itu. Abu Darda' mendoakan banyak saudaranya dengan menyebutkan namanya.

Adapn do'a setelah menninggal, berkata Amr bin Haris: ketika seorang hamba mendoakan saudaranya yang sudah meninggal, datang malaikat ke kuburnya kemudian berkata: Hai penghuni kubur yang asing, ini hadiah dari sudaramu untukmu.

Keenam: tetap menyayanginya sampai menngga dunia dan sesudah meningglnya saudara dengan anak-anaknya dan teman-temannya, Nabi Saw memuliakan seorang nenek dan berkata: sesungguhnya dia membantu kami ketika khadijah masih hidup.

Ketahuilah bahwa tidak termasuk kasih sayang, mengikuti saudaranya dalam sesuatu yang bertentangan dengan agama.

Ketujuh: meringankan dan meninggalkan membebani teman yaitu tidak membebani teman dengan sesuatu yang memberatkan, tetapi tujuan pertemananmu adalah Allah Ta'ala, mencari berkah dengan doanya, mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan melaksanakan hak-haknya. Wallohu A'lam.

* Mustawa III, Al-Ahgaff university, Tarim-Hadromaut-Yaman

Selengkapnya....

TUJUAN MENDIRIKAN HALAQOH TA'LIM

(Mukadimah 4)
Oleh : Musa

Ahlul Ilmi
Al-Habib mengutip pernyataan Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya tentang kewajiban setiap muslim yang telah mengetahui sebuah permasalahan untuk menyampaikannya.
"ketahuilah bahwa pada zaman sekarang (zaman Imam Ghozali RA) setiap rumah dimana pun berada tidak lepas dari kemungkaran.
Yaitu ketika mereka enggan menunjukan masyarakat pada kebaikan (ma'ruf). Kebanyakan masyarakat perkotaan bodoh akan hal-hal agama (syariat islam), lebih-lebih masyarakat pedukuhan dan pedalaman. Maka setiap masjid dan perumahan di sebuah kota harus ada orang ahli fikih yang mengajari masyarakat tentang agama mereka. Begitu juga di setiap desa-desa. Dan wajib bagi orang fakih yang telah selesai dari belajar hal-hal yang bersifat fardhu ain dan telah menginjak pelajaran yang fardhu kifayah, untuk keluar dari kotanya (pemukimannya) menuju ke pedukuhan dan pedalaman untuk mengajari kebutuhan agama mereka. .... Dan setiap orang awam yang telah mengetahui salah satu syarat sholat maka ia wajib mengajarkannya pada orang lain. Jika ia tidak mengajarkannya maka ia berdosa juga. Sebagaimana telah maklum bahwa seorang Nabi tidak dilahirkan dalam keadaan pandai (alim) akan hukum-hukum agama. Akan tetapi sudah menjadi kewajiban bagi setiap ahli ilmu untuk menyampaikan ilmunya. Dan setiap orang yang mengetahui satu permasalahan maka ia adalah ahlu ilmi tentang permasalahan itu."
Demikianlah, bahwa menurut Imam Ghozali setiap orang yang telah mengetahui sesuatu, berkewajiban menyempaikannya pada orang yang belum mengetahuinya, karena ia merupakan ahlu ilmi tentang masalah itu.
Tidak diragukan lagi, maksud dari pengutipan pernyataan Imam Ghozali diatas adalah untuk memberi motivasi kepada setiap pelajar ilmu agama untuk membuka halaqoh ta'lim. Tidak ada alasan untuk mengelak meskipun ia baru mengetahui sedikit permasalahan agama.
Perlu diketahui, bahwa keterangan diatas adalah kewajiban kita mengajarkan apa yang telah kita pelajari. Dan bukan kewajiban untuk membuka halaqoh ta'lim tanpa ilmu. Oleh karena itu, kita harus mengajarkan sesuai dengan apa yang telah kita pelajari. Kita tidak boleh melampauinya dan memaksakan diri mengajarkan apa yang tidak kita ketahui. Karena hal itu adalah menyesatkan dan bukan menunjukan.

Sebab-Sebab Kendornya Semangat Dakwah
Kendornya semangat dakwah kebanyakan disebabkan oleh beberapa prasangka dan alasan yang tidak benar. Maka perhatikanlah pernyataan Imam Al-Haddad dalam kitab Al-Da'wah Al-Taamah berikut ini : "terkadang di benak para ahli ilmi muncul beberapa prasangka yang menghalanginya dari berdakwah menuju kebenaran dan menyebarkan ilmu. Diantaranya adalah ungkapan -saya tidak mengamalkan ilmu saya, bagaimana saya akan mengajarkan dan mengajak (orang lain) untuk mengerjakannya, sedangkan hal itu ancamannya berat. Maka, jawabannya adalah bahwa mengajarkan ilmu merupakan bagian dari mengamalkannya. Orang yang mengajarkan dan tidak mengamalkan jauh lebih baik dari pada orang yang tidak mengamalkan dan tidak mengajarkan. Jika engkau tidak mampu mengerjakan kebaikan secara utuh, maka janganlah engkau lemah dari mengerjakan sebagiannya. Dan kamu harus terus belajar dan berusaha untuk mengamalakan apa yang telah engkau ketahui. Tidak diragukan lagi bahwa ancaman terhadap orang yang tidak mengamalkan dan tidak mengajarkan lebih berat daripada ancaman terhadap orang yang mengajarkan meskipun belum mengamalkan. Karena orang yang telah mengajarkan dan belum mengamalkan telah mengerjakan salah satu dari dua kewajibannya, sedangkan orang yang tidak mengajarkan dan tidak mengamalkan telah meninggalkan dua kewajibannya sekaligus, maka ia lebih berhak untuk mendapatkan ancaman dan siksanya.
Diantara alasannya yang lain adalah ucapannya pada diri sendiri : bahwa seruan menuju Allah SWT (dakwah) serta menuntun masyarakat menuju kepada-Nya merupakan kedudukan yang sangat tinggi lagi mulia, hal itu adalah tugas para imam yang mampu menunjukan pada hidayah dan agama Allah SWT, sedangkan saya tidak termasuk salah satu dari mereka. Maka, kekerdilannya itu menjadikannya terbungkam dari dakwah serta enggan untuk menuntun masyarakat. ia menyangka bahwa itu adalah termasuk dari sifat tawadhu' yang terpuji serta sifat tahu diri yang sudah sepantasnya. Ini adalah salah satu dari prasangka yang salah. Karena kebenaran tidak akan menghalangi kebenaran, serta kebaikan takan memalingkan dari kebaikan. Maka, ia wajib berusaha dan menyingsingkan lengan baju untuk berdakwah menuju hidayah serta menunjukan jalan kebaikan dengan disertai sifat tawadhu', rendah hati, merasa takut pada Allah SWT, khusyu' serta pengakuan akan kekurangan dan kehinaan dirinya. Inilah sifat kesempurnaan (yang hakiki), serta tabiat orang-orang besar yang mana dakwah mereka tidak pernah terhalangi hanya karena bisikan syaitan, tidak pula terpalingkan hanya karena propaganda-propagandanya. ... Prasangka-prasangka yang telah kami sebutkan di atas dan sejenisnya, terkadang juga menimpa para ulama yang telah mengamalkan ilmunya serta telah memiliki sifat takwa kepada Allah SWT."
Semoga Allah SWT membalas beliau dengan kebaikan atas nasihat yang penuh kasih sayang ini. Semoga Allah SWT memberikan pertolongan dan taufiq.
Selanjutnya, kata Al-Habib : maka wajib bagi setiap orang islam yang berambisi untuk menegakkan agamanya serta berharap untuk mendapatkan ridho Allah SWT, bergerak bersama untuk mendirikan halaqoh ta'lim dan memperluas jaringannya dengan mengajar bagi yang memiliki keahlian dan mensuportnya bagi yang tidak mampu. Caranya adalah dengan mengorbankan harta dan segala kemampuannya, baik kemampuan jasmani ataupun rohani.
"وتعاونوا على البر والتقوى"
وصلى الله على سيد المعلمين والداعين حبيب الله محمد وآله وصحبه وسلم
Demikianlah sedikit keterangan dari kami tentang sambutan Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh dalam mukadimah buku Maqoshid Halaqoh Ta'lim wa Wasa'iluha yang telah kami tulis selama empat edisi. Semoga bermanfaat.
Untuk membuka edisi berkutnya akan saya sebutkan tujuan menyelenggarakan halaqoh ta'lim secara global sebagaimana dalam kitab tersebut. Yaitu :
1. Menanamkan keagungan agama Islam dalam hati setiap pelajar.
2. Menyampaikan ilmu pengetahuan ke dalam otak mereka serta memahamkan agama mereka.
3. Menghiasi mereka dengan akhlak islamiah yang sangat terpuji.
4. Menautkan hati mereka dengan tugas dakwah menuju Allah SWT serta rasa bertanggungjawab atas tugas agama dan Risalah Muhammadiah.

Semoga Allah SWT melanggengkan rahmat-Nya kepada kita untuk terus mengais hikmah-hikmah yang menyejukan hati dan jiwa kita. Amin.
(bersambung Insya Allah SWT)



Selengkapnya....

Tujuan Mendirikan Halaqoh Ta'lim

(Mukadimah 3)
Oleh : Musa

Pertolongan Allah swt dan Tawakkal
Setelah Al-Habib menganjurkan pada kita tentang niat ikhlas, beliau memberi wejangan selanjutnya, yaitu tentang memohon pertolongan pada Allah dan bertawakkal kepada-Nya. Beliau menyebutkan ayat "barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang yang akan mencukupinya." (al-Tholaq : 3)
Menyelenggarakan halaqoh ta'lim memang sangat berat. Karena halaqoh ta'lim memerlukan kesabaran, memerlukan tenaga, memerlukan modal dan masih banyak lagi hal-hal yang menjadikan sebagian dari kita enggan menyelenggarakan halaqoh ta'lim atau tidak kuat bertahan lama. Dari sinilah kita perlu memohon pertolongan kepada Allah swt.
Banyak cara memohon pertolongan kepada Allah swt. Diantara adalah berdoa. Berdoa merupakan ibadah termudah. Karena doa dapat kita lakukan dimana saja, kapan saja dan dalam keadaan apa saja. Disamping itu berdoa merupakan senjata orang mukmin yang paling ampuh seperti yang diterangkan dalam hadits.
Cara lain memohon pertolongan adalah dengan mengerjakan sholat. Karena dalam sholat terdapat banyak doa. Dengan mengerjakan sholat berarti seorang hamba sedang memohon pertolongan kepada Allah swt. Semua jenis sholat merupakan cara memohon pertolongan Allah yang paling efektif. Hanya saja ada beberapa sholat yang memang dikerjakan khusus untuk memohon pertolongan. Diantara jenis sholat yang khusus untuk memohon pertongan Allah adalah sholat hajat. Cara mengerjakan sholat hajat sangat masyhur terdapat di banyak buku-buku tuntunan sholat.
Adapun bertawakkal kepada Allah sebagaimana yang dianjurkan oleh Al-Habib adalah salah satu dari kewajiban seorang hamba terhadap Allah swt. Makna tawakal adalah berserah diri kepada Allah swt dengan menyerahkan segala urusan kita kepada Allah swt setelah kita mengerjakan ikhtiar. Banyak orang awam yang salah paham dengan makna tawakal. Mereka menyangka bahwa tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah swt tanpa didahului dengan ikhtiar. sedangkan Nabi Muhammad saw pernah menegur seorang sahabat yang membiarkan hewan yang ia tunggangi tanpa diikat. Alasan sahabat tersebut adalah tawakal. Namun, Nabi saw mengingatkan bahwa tawakkal adalah setelah berikhtiar. Begitu juga sayidina Umar Ra yang pernah menegur orang-orang yang duduk-duduk di Masjid dan tidak bekerja. Mereka beralasan tawakkal. Namun, Sayidina Umar Ra mengingatkan mereka bahwa orang yang bertawakkal adalah orang yang telah menebarkan benihnya di sawah kemudian menyerahkan segala urusan hasil tumbuh dan tidaknya kepada Allah swt.
Sebagai penyelenggara halaqoh ta'lim kita harus berikhtiar dengan berusaha semaksimal mungkin agar halaqoh kita bisa berhasil mewarnai masyarakat. keberhasilan itu dapat kita lihat dari perubahan prilaku masyarakat. dari masyarakat awam menjadi masyarakat yang berilmu. Dari masyarakat yang jauh dari adab islami menjadi masyarakat yang beradab islami. Dari masyarakat jahili menjadi masyarakat yang madani. Jika kita telah berikhtiar dengan sekuat tenaga kemudian kita belum melihat hasil yang kita inginkan, maka kita serahkan saja semua urusan kita pada Allah swt. Karena semua hasil yang kita capai tiada lain adalah atas pertolongan Allah swt. Dari sinilah seorang penyelenggara halaqoh ta'lim diharuskan bertawakkal.
Termasuk tawakkal yang diperlukan penyelenggara halaqoh ta'lim adalah tawakkal tentang urusan pemasukan biaya operasional halaqoh. Yang penting kita telah ikhtiar dengan usaha sekuat tenaga. Jika ternyata pendapatan kita masih pas-pasan sehingga tidak mencukupi keperluan operasional halaqoh, maka kita harus menyerahkan semuanya kepada Allah swt. Karena Allah swt Mahakaya, Mahakuasa, Mahatahu segala urusan yang diperlukan hamba-Nya.

Tawadhu' dan Shilaturrahim
Selanjutnya, Al-Habib menganjurkan kepada para penyelenggara halaqoh ta'lim untuk bertawadhu' dan rendah hati. Dua sikap ini adalah satu makna. Yaitu kebalikan dari sifat takabbur atau sombong. Sikap tawadhu' adalah sikap seseorang yang merasa dirinya jauh di bawah derajat orang lain. Dengan kata lain orang tersebut tidak pernah merendahkan orang lain. Orang tawadhu' akan selalu berbaik sangka pada siapapun. Karena dia merasa bahwa orang yang ada di hadapannya adalah lebih baik dan lebih sempurna.
Seorang penyelenggara halaqoh ta'lim harus memiliki sifat ini. Karena tidak sedikit saudara kita yang telah mendirikan halaqoh ta'lim kemudian merasa dirinya paling pintar, paling hebat dan merasa dirinya telah berjasa. Dari sifat-sifat ini penyelenggara halaqoh sering merendahkan orang lain. Terutama terhadap murid-muridnya. Tidak jarang penyelenggara halaqoh dengan tidak segan-segan menyuruh orang yang lebih tua darinya dengan alasan karena ia muridnya. Banyak juga yang merendahkan ustadz halaqoh lain karena ia merasa lebih pandai. Lebih-lebih jika ustadz itu ternyata hanya lulusan Safinah di pesantren sedangkan dirinya telah membaca Fathul Wahab atau Minhaj.
Penulis teringat penuturan seorang guru yang juga lulusan Al-Ahgaff dan telah menjadi da'i : "Kamu harus mulai belajar rendah diri, karena kamu sekarang keilmuannya sudah melebihi orang-orang di kampungmu. Apalagi setelah kamu lulus dari Al-Ahgaff, kamu harus menghormati guru-guru di kampung yang telah lebih dulu membuka halaqoh. Apalagi jika dulu dia adalah gurumu."
Selanjutnya Al-Habib memotivasi kita untuk meresapi dan menghayati "tujuan-tujuan halaqoh ta'lim" yang insya Allah akan saya terangkan pada lembaran-lembaran berikutnya. Semoga Allah memanjangkan umur kita untuk terus mengumpulkan serpihan-serpihan rahmat-Nya sebagai penghapus dosa-dosa yang telah kita lakukan.
Anjuran berikutnya adalah mengenai hubungan kita dengan orang-orang sholeh di daerah kita. Beliau menganjurkan agar kita mempererat hubungan kita dengan mereka. Nasehat ini masih berkaitan dengan nasehat sebelumnya yaitu tawadhu'. Karena diantara hal-hal yang mempererat hubungan kita dengan orang lain adalah sikap tawadhu' kita yang dapat memposisikan orang lain pada posisi yang terhormat. Dan masih banyak akhlak-akhlak mulia lain yang dapat mempererat hubungan bermasyarakat.
Diantara rahasia menjaga hubungan baik dengan orang-orang sholeh di daerah kita adalah keberkahan dan doa mereka yang akan menambah keberhasilan halaqoh kita. Sebuah contoh kecil adalah ketika kita tidak memahami beberapa masalah yang kemungkinan diketahui oleh mereka, kita dapat bertanya pada mereka. Jika hubungan kita dengan mereka tidak baik maka kita pasti akan merasa malu untuk bertanya. Bahkan kita akan gengsi bertanya pada orang yang kita benci. Contoh lain adalah ketika kita mengalami beberapa kesulitan. Insya Allah dengan senang hati mereka akan membantu kita.

Motivasi
"Jangan sampai semangatmu mengendor hanya karena orang-orang yang berusaha mengendorkan semangatmu, baik karena hasud, dengki atau yang lainnya. Jangan pula engkau merasa minder hanya dengan beberapa kritik yang pedas dan memojokan. Atau hanya karena penghinaan, cacian, peremehan dan keraguan orang-orang yang membencimu. Karena hal itu sering terjadi. Bahkan hal itu terjadi juga pada orang-orang yang sudah matang dan mantap dalam kebaikan. Semua ini tiada lain adalah ujian dari Allah swt. Oleh karena itu tidak ada motivasi yang lebih baik setelah adanya motivasi dari Allah swt, Rasul-Nya dan para salafussholeh dari umat ini. Juga tidak ada keterangan yang lebih jelas dari keterangan mereka semua. Maka dengarkanlah keterangan itu dan bersaksilah."
Pesan-pesan pada alenia diatas adalah motivasi Al-Habib kepada kita para penyelenggara halaqoh ta'lim. Semua itu menunjukan betapa beratnya tantangan yang akan kita hadapi. Namun, insya Allah dengan motivasi diatas kita akan tetap bersemangat untuk menyelenggarakan halaqoh ta'lim. Amin.
(bersambung insya Allah swt)

Selengkapnya....

AKHIR PENCARIAN

Oleh: Ali candra (Mustawa IV)

jalan yang berliku telah dilewatinya, tebing yang terjal telah didakinya, samudra yang luaspun telah diseberanginya. Tidak ada di dunia ini yang belum dia lakukan dan rasakan, kecuali hanya satu hal saja yaitu menemukan makna "cinta sejati". Entah seperti apakah sejatinya cinta itu belum pernah dia merasakannya, bahkan wujud dan bentuknyapun belum pernah dia lihat.
Dia hanya sering mendengar dari para pemuja cinta bahwa cinta itu indah, cinta itu manis, cinta itu seperti mawar yang sedang merekah, cinta adalah wanginya melati, cinta adalah bla..bla…bla…. masih banyak lagi makna cinta yang dia dengar dari para pemujanya. Akan tetapi begitu terkejutnya dia ketika mendengar hal serupa dari orang-orang yang merasa terluka karena cinta. Mereka bercerita bahwa cinta itu hantu, cinta itu racun, cinta adalah mawar berduri yang dengan mudah melukai pemegangnya, cinta adalah bla..bla…bla…sederetan kata-kata penuh cacian diarahkan pada "CINTA".
Mbah karto, begitulah orang-orang di kampung menyebutnya. Hartawan tua yang telah ditinggal mati istrinya tanpa mendapatkan keturunan itu sekarang sedang gundah hatinya. Hartanya yang menumpuk bagaikan tingginya gunung Semeru itu tak akan habis dimakan tujuh keturunan. Akan tetapi tanpa anak cucu, siapa yang akan menghabiskannya?. Kehidupan dunia telah dirasakannya semua, hanya cinta dan kasih sayang dari istri dan anak yang belum pernah dia rasakan. Cinta sejati belum pernah dia temukan. Istrinya kelewat cepat meninggalkannya sebelum dia sempat mendapatkan makna kesejatian cinta.
Sebenarnya apa itu cinta? Benar-benar membuat dia semakin penasaran untuk dapat menemukan dan merasakan sebuah cinta. Dia ingin membuktikan apakah benar cinta itu manis dan indah seperti yang di ceritakan para pemuja cinta, ataukah cinta itu pahit dan busuk seperti yang di ceritakan para pencacinya.
Bertahun-tahun dia terus berjalan mencari makna dari cinta, tapi belum sedetikpun dia menjumpai makhluk yang bernama cinta. Kekecewaan sudah terlihat di wajahnya. Kerut-kerut di wajah tanda penuaan sudah muncul, tapi belum muncul tanda-tanda pencariannya akan segera berakhir.
Suatu malam yang hening ketika sebagian besar makhluk tuhan sedang beristirahat karena lelah dengan aktivitas mereka seharian penuh, ketika makhluk-mkhluk malam telah keluar dari sarangnya, berpesta, menari, dan menyanyi mendendangkan munajat malam kepada tuhannya. Dia yang ada di pembaringan tak dapat sekejapun memejamkan mata. Rasa lelah yang dia rasakan sejak tadi sore tidak dapat dia lampiaskan dengan nikmatnya menyaksikan indahnya mimpi malam. Jiwa dan hatinya galau luar biasa karena sampai detik ini belum bisa menemukan makna dari cinta. Tidak seperti biasanya, kegalauannya kali ini benar-benar membuncah. Ledakan emosi dalam dirinya yang selama ini dia pendam rasa-rasanya ingin dia keluarkan. Sampai akhirnya sampailah dia pada keputusan terakhir, "cinta…malam ini aku harus menemukanmu, entah bagaimanapun caranya dan dimanapun tempatnya…" begitu tekadnya.
Keluarlah dia berjalan seorang diri dalam keheningan malam dan keramaian para makhluk tuhan yang sedang bermunajat dalam nyanyiannya. Tanpa bekal dia keluar dari rumah, hanya baju yang melekat di tubuh saja yang terbawa, dinginnya malam sudah tidak dihiraukannya, hatinya sudah mantap malam ini aku harus menemukan cinta. Pikirannya sudah kosong dari segala polah tingkah para makhluk tuhan, hanya ada kata cinta dalam pikirannya.
Baru beberapa langkah berjalan bertemulah dia dengan dua makhluk yang sedang terbuai mesra dengan indahnya hembusan nafsu jiwa mereka. "ah……apakah ini cinta yang selama ini aku cari?" Dirinya membatin. "Bukan…ini bukan cinta yang selama ini aku cari, mereka hanyalah dua ekor anjing yang sedang asyik bermesraan tanpa malu diketahui manusia". Berjalan lagi dia dengan hati yang lebih galau, hingga tiba-tiba muncul dihadapannya dua orang manusia berbeda jenis yang sedang terlibat adu mulut dengan hebatnya, salah satunya dengan tanpa segan-segan menuding kearah lawannya dan menyebut satu persatu nama binatang yang dihapalnya. "Kamu anjing, kamu babi, kamu keledai" dan bla..bla…bla...entah apa lagi yang diucapkannya. Tidak mau kalah sang lawan pun menjawab "biar saja aku anjing karena kamu adalah anjing betinanya, biar saja aku babi karena kamu juga babi betinanya…" dan begitulah seterusnya. Mengetahui hal tersebut segera saja dia lewat tanpa mau mendengarkan lagi kalimat-kalimat yang keluar dari mulut mereka berdua. "Ah…..bukan ini juga cinta yang aku cari, mungkin ini adalah arti cinta dari para pencacinya" pikirnya. "Ternyata cinta mereka hanya sampai sebatas nama-nama binatang" lanjutnya.
Terus dan terus dia berjalan dengan hati yang semakin galau, "fajar semakin dekat tapi aku belum juga menemukan cinta yang aku cari" batinnya. Di tengah-tengah kegalauannya yang begitu mendalam lewatlah dia di sebuah bangunan yang di dalamnya terlihat segerombolan makhluk yang sedang berpesta, berjoget dan menari, "ah…apalagi yang kutemui ini". Diperhatikannya dengan cermat, dan rupanya segerombolan babi tengah asyik berpesta tanpa menghiraukan keadaan di sampingnya. "Oh…..ternyata aku melewati kandang babi" begitu batinnya. Tak dihiraukannya pesta joget para babi tersebut, semakin dia percepat langkahnya untuk dapat segera menemukan "cinta"nya.
Akhir malam menjelang subuh sampailah dia pada suatu tempat, hening, sejuk dan damai. Begitulah perasaan yang dia temukan ketika pertama kali mencoba mendekatinya. "Semoga saja inilah akhir dari pencarianku" doanya. Dicobanya untuk masuk kedalam, "Ya tuhan……..damainya tempat ini" jerit hatinya senang. Diamatinya orang-orang yang ada disekelilingnya, "ah….siapakah mereka itu, tubuh putih bersih yang diselimuti cahaya keemasan?" Tanyanya dalam hati. "Aku yakin disinilah akhir pencarianku, akan kutemukan cintaku di sini, cinta yang bertahun-tahun aku cari dengan susah payah" terusnya. "Tapi bagaimanakah aku harus mencarinya? Haruskah aku berteriak? atau hanya diam saja aku menunggu kemunculannya?...Ya Tuhan….bagaimanakah ini? Apa yang harus aku lakukan untuk menemukan sang cinta? Bantu aku Tuhan!!! Aku sudah tidak kuat, sudah hilang daya tenagaku untuk menemukannya, Bantu aku temukan dia Tuhan…." jerit hatinya. "Cinta…dimanakah engkau berada? Datanglah!! muncullah!!! Muncullah meskipun hanya sekejap…cinta…..datanglah…datanglah…muncullah….."
Tak kuat dia berdiri menyangga berat badannya. Habis sudah tenaganya, semuanya telah dia curahkan untuk dapat menemukan makna cinta. Berpuluh-puluh tahun dia kerahkan tenaganya hanya mendapatkan sejatinya cinta. "Bukk….!!" Suara dia terjatuh begitu kerasnya bersamaan dengan berkumandangnya adzan subuh.
"INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI'UN…." Telah meninggal dunia dengan tenang mbah karto dalam sujudnya. Berakhir sudah pencariannya untuk menemukan cinta yang selama ini dicari-carinya. Sepertinya dia telah menemukan cinta sejatinya, dia temukan di akhir hidupnya dalam sujud terakhirnya.

Selengkapnya....